Senin, 20 Februari 2017

DUNIA BABAK PRAKUALIFIKASI


Allah  berencana  membuat surga dan neraka, yang akan ditempati  antara  lain  oleh  manusia. Untuk  menentukan siapa yang menjadi penghuni surga dan siapa yang menempati neraka, maka Allah membuat "aturan main" yang harus ditaati, yaitu sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur'an dan Hadits. 

Manusia yang patuh melaksanakan "aturan main" ini, dijanji-kan~Nya menjadi penghuni surga. Sebaliknya, manusia yang selalu melanggar "aturan main" ini, akan dicampakkan~Nya ke dalam neraka. Dengan demikian, hidup manusia di dunia sebenarnya adalah "babak prakualifikasi" untuk menentukan tempat tinggalnya nanti di akhirat. Dan di sana, karena kita semua telah di-beri~Nya kesempatan dan peluang yang sama pada waktu hidup di dunia, di mana pun kita ditempatkan~Nya, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Masing-masing orang akan menghisab dirinya sendiri, dengan membaca kitab amal perbuatannya selagi hidup di dunia, yang akan digantungkan di lehernya masing-masing [ Al-Israa' (17):13-14 ].

“Maha Suci Allah  yang di tangan~Nya lah
segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu, siapa di antara
kamu yang lebih baik amalnya.”

Al-Mulk (67):1-2



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir. Permadi Alibasyah

Gambar : dreamstime,pixabay

Senin, 06 Februari 2017

MEMELIHARA KESADARAN ( AWARENESS )


Untuk memelihara agar "kesadaran" dapat tetap tinggi, cobalah lakukan langkah-langkah berikut ini dengan konsisten :

1.       Setiap akan meninggalkan rumah, mengheningkan cipta sejenak untuk :
·         bertekad dengan segenap kesungguhan hati akan mengontrol nafsu dan akan bertindak sesuai dengan  "aturan main" Allah, baik pada jalur hablum minallah maupun pada jalur hablum minannas,
·         menyadari (mengantisipasi) bahwa sepanjang hari ini akan menghadapi ujian-ujian Allah, seperti misalnya : bergunjing, berprasangka buruk, dengki, malas shalat, atau pun diperlakukan zalim.
Ø  Jadikanlah ujian-ujian Allah sebagai peluang-peluang untuk memperoleh pahala!

2.       Setiap selesai shalat Isya, mengevaluasi  perilaku atau perbuatan yang  telah dijalani, mulai dari pagi sampai dengan sore hari. Akuilah kegagalan-kegagalan dalam mengatasi ujian Allah sepanjang hari ini, kemudian tekadkan niat bahwa besok akan tampil lebih baik lagi.
Ø  Jadikanlah hari esok sebagai kesempatan yang diberikan Allah untuk memperbaiki diri!

Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok.
Al-Hasyr (59):18

3.      Setiap minggu (minimal), sediakan waktu untuk merenung seolah-olah kematian diri  kita akan segera datang, kemudian bayangkanlah konsekuensi yang akan dihadapi di alam kubur nanti.
Ø  Ingatlah bahwa kematian itu adalah batas penentuan kualitas kita di alam abadi nanti!    
Umar bin Khatab ra. berkata, "Hitunglah dirimu sebelum dihitung dan timbanglah dirimu sebelum ditimbang!"

4.       Setiap melihat ataupun mendengar ada kematian, bayangkan-lah seolah-olah itu dialami oleh diri kita sendiri. Begitu juga pada waktu ziarah kubur, rasakanlah seolah-olah kita yang berada di dalamnya. Renungkan pula apa yang telah diperbuat dan dicapai si ahli kubur semasa hidupnya. Apakah semua itu akhirnya bermanfaat baginya? Mudah-mudahan kesadaran hal ini akan menghantarkan kita pada keyakinan bahwa ternyata sebaik-baik bekal itu adalah taqwa! Dan ternyata pula mayoritas manusia di dunia ini tertipu. Mereka terjebak mati-matian dalam mengumpulkan 'alat' (tools) untuk mengumpulkan pahala, tetapi tidak pernah menggunakan alat itu secara optimal. Mereka mengejar-ngejar sesuatu yang jelas-jelas berlari darinya, dan menghindar dari sesuatu yang nyata-nyata menghampirinya. Pupuklah terus keyakinan akan mati ini. Ingatlah,bahwa kuburan akan datang ke setiap orang dengan kecepatan 60 menit per jam, tidak peduli sekaya apa dia sekarang. Hidup adalah kesempatan, maka jadikanlah ia sebagai persiapan.

Bersabda Rasulullah saw. : "Perbanyaklah ingatan untuk mati."  ( Abi Hurairah, Rawi : Ibnu Hiban ).

Hadits Aisyah r.a.-  Katanya, ya Rasulullah, Apakah ada orang yang dikumpulkan bersama syuhada di akhirat ? Kata Nabi : "Ya ada, yaitu orang yang   selalu mengingat mati dua puluh kali dalam sehari." ( Rawi: Baihaqi ).

Hadits Ibnu Umar r.a. katanya, - Aku pernah mendatangi Nabi saw., yang ketika itu dia berada ditengah-tengah orang banyak. Ada seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling mulia di sisi Allah ya Rasulullah ? Kata Nabi saw. : " Yaitu orang yang selalu mengingat mati dan menyediakan persiapan untuk itu.  Dengan itulah hilangnya kerakusan duniawi."  ( Rawi : Ibnu Abi Dunya )

Hadits diriwayatkan  oleh  Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim : "Manusia yang paling cerdik ialah yang terbanyak mengingat kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu.  Mereka itulah yang benar-benar cerdik, dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat."

Seorang ahli hikmah berkata, "....orang yang lupa mengingat mati tidak ubahnya bagaikan sapi. Meskipun tempat penjagalan hanya berjarak beberapa meter darinya, sapi tetap saja memakan rumputan segar dengan lahapnya. Kalau saja ia dapat berpikir bahwa gilirannya dijagal tinggal beberapa menit lagi, niscaya nafsu makannya akan hilang, dan pastilah ia berupaya untuk melarikan diri dari tempat itu ......."

Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, "... Coba perhatikan dirimu baik-baik, tidak lama lagi kamu akan mencapai tujuan akhir semua manusia yaitu terbujur kaku di bawah lapisan tanah. Segala perbuatanmu akan diperlihatkan kepada dirimu di padang mahsyar, yaitu tempat di mana orang-orang yang telah berbuat aniaya akan merintih menyesali diri; orang yang lalai akan sangat menyesali diri dan berharap seandainya ia dapat kembali ke dunia. Namun itu  semua tiada berguna, karena kesempatan mengulang sungguh tidak akan pernah ada ....."

Di dalam kitab Zahri Riyadh disebutkan bahwa nabi Yakub bersahabat dengan malaikat maut. Suatu ketika malaikat maut datang mengunjunginya. Yakub bertanya kepadanya, "Hai  malaikat maut, engkau datang sekedar mengunjungiku atau hendak mencabut nyawaku?" Malaikat maut menjawab, "Aku hanya datang berkunjung." Lalu Yakub pun berkata, "Aku mohon engkau mau memenuhi satu permintaanku." Malaikat maut bertanya, "Apakah permintaanmu itu?" Yakub berkata, "Bila ajalku telah mendekat, tolong engkau beritahukan padaku." Malaikat maut pun berkata, "Baiklah, nanti akan aku kirimkan kepadamu dua atau tiga orang utusan."
Ketika Yakub sampai ajalnya, datanglah malaikat maut padanya. Dan sebagaimana biasanya, Yakub pun bertanya, "Apakah kamu hanya berkunjung atau hendak mencabut nyawaku?" Malaikat maut menjawab, "Kali ini aku datang untuk mencabut nyawamu!" Dengan keheranan Yakub bertanya, "Bukankah engkau telah berjanji padaku akan mengirimkan dua atau tiga utusan?" Malaikat maut pun menjawab, "Telah aku lakukan itu! Keputihan rambutmu  setelah hitam sebelumnya; kelemahan tubuhmu setelah kuat sebelumnya; dan kebongkokan tubuhmu setelah tegak sebelumnya. Tidakkah engkau sadar bahwa semua itu adalah utusanku pada anak Adam sebelum ia mati?"


Abu Hamzah Al-Khurasani (seorang sufi, wafat tahun 903) mengatakan, "Barangsiapa telah merasakan ingat kematian, maka Allah akan menjadikan ia senang mencari pahala dan benci terhadap dosa.”



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar :www.pixabay.com

Senin, 23 Januari 2017

ILUSTRASI SEJARAH


Pada suatu waktu, khalifah Sulaiman bin Abdul Malik datang ke Madinah. Beliau ingin bertemu dengan Abu Hazim, yaitu satu-satunya sahabat Rasulullah saw. yang masih hidup. Kepada Abu Hazim, Khalifah menanyakan tentang bagaimana keadaan seseorang itu pada waktu ia akan meninggal dunia. Maka Abu Hazim pun berkata: "Keadaan orang yang akan  meninggal  dunia itu ada dua macam. Pertama, seperti perantau yang dipanggil pulang ke kampung  halamannya  untuk  menyaksikan hasil kirimannya yang sudah dibuatkan rumah yang bagus dengan taman yang indah. Foto mengenai semuanya itu telah dikirimkan kepadanya sebelum dia berangkat. Kita dapat bayangkan bagaimana sukacitanya perasaan sang perantau, tentu ia ingin segera mempercepat kepulangannya itu. Apalagi dikhabarkan pula kepadanya, bahwa kedatangannya nanti akan disambut oleh masyarakat dengan riang gembira sebagai perantau yang berhasil. Adapun keadaan yang kedua, adalah seperti penjahat yang lari  dari penjara kemudian dia tertangkap kembali. Ia akan diseret, disiksa, dan dilemparkan dengan kejam ke tempatnya semula. Dapat dibayangkan, betapa takut dan ngerinya perasaan orang itu.”


Mendengar penjelasan Abu Hazim itu, kontan Khalifah menangis tersedu-sedu sambil berdoa dengan syahdu  “ Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan aku di waktu kembali kepada~Mu seperti layaknya seorang penjahat yang melarikan diri kemudian tertangkap kembali.”
Kelompok pertama, menggambarkan orang-orang yang meyakini bahwa suatu waktu mereka akan kembali kepada Allah; mereka berusaha sekuat  tenaga menyiapkan bekal yang banyak untuk perjalanan yang amat jauh di alam akhirat. Bekal itu ialah amal saleh dalam jalur hablum-minnallah dan jalur hablum-minnannas.


Kelompok kedua, mewakili orang-orang yang lalai menyiapkan perbekalan. Umur dihabiskannya untuk memenuhi kepuasan hawa nafsu belaka. Mereka gigih mencari fasilitas demi memuaskan kebutuhan nafsu, seperti foya-foya dan mengumbar nafsu syahwat, memiliki rumah seperti istana dan mobil-mobil mewah yang kesemuanya itu hanya untuk prestise saja. Mereka mengukur kesuksesan hidup di dunia dari kehebatan fasilitas atau materi yang mereka miliki.


Kehidupan dunia dijadikan indah
dalam pandangan orang-orang kafir, dan
mereka memandang hina orang-orang yang
beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa
 itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat.
Dan  Allah memberi rezki  kepada orang-orang
yang  dikehendaki~Nya tanpa batas.
Al-Baqarah (2):212

Allah berfirman : "Dan kepada
orang yang kafir pun Aku beri kesenangan
sementara, kemudian Aku paksa ia menja-
lani siksa neraka dan itulah seburuk-
buruk tempat kembali."
Al-Baqarah (2):126

Dan orang-orang yang kafir amal-
amal mereka adalah laksana fatamorgana
 di tanah yang datar
An-Nuur (24):39




Dengan demikian jelaslah, sebaik-baik kekayaan adalah kekayaan jiwa, dan sebaik-baik bekal adalah takwa; sedangkan seburuk- buruknya kejadian adalah kebutaan hati.




Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com

Rabu, 11 Januari 2017

KEHIDUPAN DUNIA ADALAH KESENANGAN YANG MENIPU



Allah menciptakan surga dan neraka, yang kelak akan diisi oleh manusia. Di mana nanti kita berada -surga atau neraka-  akan ditentukan melalui proses kompetisi yang  panjang selama  hidup di dunia; yaitu kompetisi dalam mengumpulkan pahala. Kompetisi ini berakhir pada waktu kita mati, karena tidak ada kesempatan pengumpulan pahala lagi setelah datangnya kematian (kecuali dari tiga perkara sebagaimana sabda Rasulullah saw, lihat hal. 44 ).

Sesungguhnya Kami telah menjadikan
apa yang ada di bumi sebagai perhiasan
bagi manusia, agar Kami menguji
  mereka siapakah di antara mereka
yang terbaik perbuatannya.
Al-Kahfi (18):7


Seseorang yang berhasil mengumpulkan pahala yang banyak, tempatnya  kelak  adalah  di surga.  Sedangkan  bagi  yang  lalai, tidak  disangsikan lagi, ia akan berada di tempat sebaliknya yaitu neraka. Jadi, surga adalah merupakan puncak hadiah yang akan diraih oleh manusia. Dan tentu saja untuk mendapatkan hadiah puncak ini  tidaklah mudah. Diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh, karena Allah akan  terus menerus menguji keuletan kita dalam mematuhi “aturan main" yang dibuat~Nya.

Apakah manusia itu mengira
bahwa mereka dibiarkan saja
mengatakan : ' kami telah beriman ', sedang
mereka tidak diuji lagi ?
Al-Ankabuut (29):2


Kami akan menguji kamu dengan keburukan 
dan kebaikan sebagai cobaan.
Al-Anbiya' (21):35


Rasulullah saw. pun memperingatkan kita :

"Dunia itu adalah nerakanya orang
mukmin dan surganya orang kafir.  Surga
itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai,
dan neraka itu dikelilingi oleh hal-hal
yang menyenangkan (nafsu)."
  




Memang bila direnungkan dengan pikiran yang jernih, niscaya kita akan mengakui bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah semata-mata untuk diuji. Seandainya hidup ini bukan untuk diuji, lalu kenapa Allah tidak langsung saja mengirimkan kita ke surga? Sedangkan bentuk ujiannya itu bermacam-macam. Hal ini tentunya adalah wajar, mengingat hadiahnya pun luar biasa, yaitu hidup abadi dalam kebahagiaan di surga. Ujian terberat bagi kebanyakan orang, umumnya adalah yang berkaitan dengan harta atau pangkat. Harta atau pangkat dapat dengan mudah membuat manusia terbius, terlupa akan tujuan hidupnya di dunia. Harta yang seharusnya digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan ketaatan pada aturan main~Nya, terbuai justru digunakan untuk melanggar 'aturan main' itu (!).  Dalam hal ini sayidina  Ali r.a. berwasiat, "Hati-hatilah terhadap hartamu, karena ia dapat menjadi bahan utama pelampiasan hawa nafsu!"  ( "... Ya Allah, letakanlah dunia di tangan kami dan jangan Engkau jadikan dunia menetap di hati kami ....." )

Dan ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anak kamu itu
hanyalah sebagai cobaan ....
Al-Anfaal (8):28

... Dan Kami coba mereka
dengan nikmat yang baik-baik dan
bencana yang buruk-buruk.
Al-A'raaf (7):168




Untuk dapat mengatasi berbagai macam ujian Allah ini, Kita  harus mempunyai bekal motivasi yang kuat. Karena hanya dengan motivasi yang kuat, akan tercipta semangat yang hebat. Dan dengan semangat yang hebat, segala godaan yang berasal dari  nafsu / setan  yang gila pun akan dapat ditaklukkan.
Ayat-ayat berikut ini dapat dijadikan sebagai bekal untuk motivasi :

Sesungguhnya barangsiapa
datang kepada Rabbnya dalam keadaan
berdosa, maka sesungguhnya baginya
neraka jahanam. Ia tidak mati di dalamnya
dan tidak (pula) hidup.
Thaahaa (20):74

Sesungguhnya kehidupan dunia
hanyalah  permainan dan senda gurau ....
Muhammad (47):36

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
sampai kamu masuk ke dalam kubur.
At-Takaatsur (102):1, 2

Maka janganlah harta benda dan anak-
anak, mereka menarik hatimu.   Sesungguhnya
Allah menghendaki dengan (memberi) harta
 benda dan anak-anak itu untuk menyiksa
mereka dalam kehidupan di dunia  dan kelak
akan melayang nyawa mereka, sedang
mereka dalam keadaan kafir.
At-Taubah (9):55

Ketahuilah bahwa kehidupan dunia
itu hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah
antara kamu serta berbangga-banggaan tentang
banyaknya harta dan anak, seperti hujan
yang tanam-tanamannya mengagumkan para
petani; kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian
menjadi hancur. .......... Dan kehidupan
dunia ini   tidak lain  hanyalah
kesenangan yang menipu.
Hadiid (57):20

Dan tidaklah kehidupan dunia ini
melainkan senda gurau dan main-main.
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang 
sebenar-benarnya kehidupan, kalau
mereka mengetahui.
Al-Ankabuut (29):64





Memang, bila dilihat hanya dari permukaan, dunia ini sangat indah dan mempesona, sehingga tidak heran banyak orang yang tergiur dan terpedaya olehnya. Padahal kalau orang mau menyelam melihat hakikat yang sebenarnya, maka akan nampaklah dunia itu tidak lain hanyalah tipuan kosong belaka. Betapa hari ini dibuatnya kita tertawa terpingkal-pingkal, dan esok hari dibuatnya kita menangis tersedu-sedu.
Seorang ahli hikmah berkata, "Barangsiapa yang menyaksikan dunia dengan menggunakan mata batinnya, niscaya ia tidak akan rela menggunakan sebagian besar waktu dan tenaganya hanya semata-mata untuk merengkuh dunia ke dalam genggamannya."
Kita  harus segera menyadari, dunia hanyalah batu loncatan bagi manusia untuk mencapai akhirat. Dunia bukanlah tempat yang diciptakan Allah untuk kita tinggali selamanya, tetapi dunia hanyalah sekedar tempat persinggahan sementara dalam perjalanan kita menuju kampung halaman yang telah disediakan Allah, yaitu akhirat. Bersikap prihatin dalam suatu perjalanan tentunya sangat bijaksana. Bukankah bagi seorang pengembara itu kenikmatan adanya di akhir perjalanan?  Ingatlah selalu pesan  Nabi kita :

"Akan datang kepada umatku suatu zaman, dimana mereka cinta kepada lima perkara dan lupa kepada lima perkara yang lain. Yaitu cinta kepada dunia, lupa kepada akhirat; cinta kepada harta, lupa kepada perhitungan; cinta kepada makhluk, lupa kepada Kholiq; cinta kepada dosa, lupa kepada taubat; dan cinta kepada mahligai lupa kepada kuburan."




Menurut Imam Ghazaly, kelak semua manusia akan melintasi jembatan yang di bawahnya terdapat neraka. Jembatan ini dikenal dengan sebutan shiraathalmustaqiim. Kelak bakal ada yang melewatinya secepat kilat, ada juga yang berlalu seperti angin atau sekencang larinya kuda, dan ada pula yang secepat terbangnya burung. Namun  di samping itu, ada  juga yang berjalan biasa, atau yang merangkak hingga hangus menjadi arang. Bahkan ada yang tersandung sehingga terjatuh ke dalam neraka.  Perbedaan cara ini dikarenakan perbedaan sikap hidup selama di dunia, yaitu apakah selalu taat, atau sering membangkang pada aturan main~Nya. Shiraathal mustaqiim bukanlah jembatan seperti di dunia yang dapat ditempuh dengan kekuatan fisik atau kaki, tetapi jembatan ini hanya dapat diseberangi dengan kekuatan hati. Hati yang selalu membangkang ibarat sepasang kaki yang lumpuh (pincang), sedangkan hati yang selalu taat pada aturan main~Nya ibarat sepasang kaki seorang pelari ulung.




Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah

Gambar : pixabay.com, infounik.com

Rabu, 21 Desember 2016

ALAT YANG DIPERLUKAN UNTUK MENCARI BEKAL

Dari uraian terdahulu, tentu kita sekarang mengerti, bahwa kehidupan di dunia ini haruslah dijadikan arena untuk mengumpulkan pahala. Percuma kita punya harta melimpah atau pun kedudukan yang tinggi bila tidak disertai dengan amal yang berbuah pahala. 

Mengumpulkan pahala ini tidaklah mudah karena nafsu dan setan akan selalu merintangi. Untungnya  Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang melengkapi kita dengan "alat" yang dapat memudahkan pengumpulan bekal akhirat ini. Alat yang dimaksud adalah seluruh fasilitas yang kita miliki, yaitu dapat berupa harta benda, keluarga, pekerjaan, dan lain-lain. Fasilitas ini tentu saja tidak datang dengan sendirinya, melainkan harus kita cari dengan gigih.


Apabila  telah  ditunaikan  sembahyang,
 maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.
Al-Jumu'ah (62):10 


"Bersegeralah kamu mencari rezeki, dan
berusahalah mencari keperluan hidup, maka sesungguhnya berpagi-pagi mencari rezeki itu adalah berkat dan keberuntungan."
 Riwayat Ibnu 'Ady dari Aisyah 


Seluruh fasilitas yang kita miliki, pada hakikatnya adalah hanya sarana untuk kelancaran bertaqwa. Dengan demikian, semakin banyak fasilitas yang kita miliki, maka kualitas taqwa kita pun tentunya harus semakin lebih tinggi.



Dengan memiliki banyak uang misalnya, memudahkan kita bersedekah, menolong orang susah, menyantuni anak yatim, membahagiakan orang tua, melaksanakan ibadah haji, dan lain sebagainya.

Dengan memiliki rumah yang asri, taqwa dapat kita jalankan dengan baik. Bagaimana dapat menghasilkan taqwa yang baik kalau kita tinggal di rumah yang sumpek ?


Dengan memiliki kendaraan, maka kita tidak perlu mengeluarkan banyak energi atau pun naik bis yang penuh sesak. Dengan demikian badan kita tetap segar sampai di tujuan. Bagaimana dapat shalat dengan baik kalau badan dan pikiran kita lelah?

Pekerjaan yang kita miliki, termasuk fasilitas untuk melancarkan taqwa juga. Bila kita tidak memiliki pekerjaan atau tiba-tiba dipecat, maka semangat hidup dapat turun, frustrasi dan depresi mental pasti terjadi.  Bagaimana dengan kondisi seperti ini dapat diharap-kan menghasilkan taqwa yang berkualitas baik ?

Pangkat atau kedudukan yang dimiliki juga untuk mempermudah bertaqwa. Dengan pangkat yang tinggi, maka akan memudahkan menghasilkan kualitas taqwa yang lebih baik dibandingkan dengan  pegawai rendahan.

Keluarga (suami / istri dan anak) saqinah yang dimiliki, itu pun merupakan fasilitas untuk melaksanakan taqwa. Mereka dapat menjadi  pelipur lara yang membuat hati menjadi tenteram. Dengan hati yang tenteram tentu akan lebih mudah untuk melaksanakan taqwa.

Bila kita sedang diserang penyakit malas ataupun merasa jenuh, maka renungkanlah sejenak akan tujuan hidup kita di dunia yang fana ini, lalu gunakanlah fasilitas yang kita miliki untuk mengusir kemalasan atau kejenuhan itu.

Jadi jelaslah, fasilitas atau materi yang kita miliki gunanya hanya untuk menunjang kelancaran pelaksanaan taqwa.

Bila kita telah menghayati hal ini, maka insya Allah kita tidak akan silau oleh materi atau pun kedudukan. Karena sesungguhnya, semua itu dititipkan Allah kepada kita semata-mata sebagai alat untuk meningkatkan ketaqwaan saja.



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir. Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com

Jumat, 18 November 2016

TEMPAT MENCARI PAHALA



Pahala adalah hadiah yang diberikan Allah kepada manusia apabila ia lulus dari ujian yang dihadapinya. Ujian-ujian ini pada dasarnya terletak pada dua jalur, yaitu jalur hablum-minallah dan jalur hablum-minannas. Pada kedua jalur ini, Allah dan Rasul~Nya telah menentukan "aturan main" bagaimana manusia harus bersikap. Misalnya saja, dalam jalur hablum-minnallah manusia diwajibkan shalat; dan dalam jalur hablum-minannas manusia diwajibkan berbuat baik terhadap sesamanya. Semua "aturan main" ini tertuang lengkap dalam Al-Qur'an dan Hadits Rasulullah saw. Lihat lampiran 1 Buku Bahan Renungan Kalbu ( halaman 461 ).
Barangsiapa yang dapat tetap patuh melaksanakan "aturan main" ini, dengan niat semata-mata karena Allah, maka ia disebut orang yang bertaqwa. Dan dia akan memperoleh pahala, yang kelak akan dirasakan kenikmatannya di akhirat nanti. Jadi dengan perkataan lain, ladang tempat mencari pahala itu terletak pada jalur hablum-minallah dan jalur hablum-minannas, karena pada dua jalur inilah Allah menguji ketaatan manusia mematuhi aturan-aturan yang di-tentukan~Nya dalam Al-Qur'an dan Hadits.
Allah melengkapi manusia dengan mata, telinga, dan hati bukan tanpa tujuan. "Perlengkapan" ini merupakan sarana bagi Allah untuk menguji manusia, apakah dalam setiap situasi dan kondisi nyaman atau pun tidak nyaman ia mampu tetap taat mengikuti "aturan main" yang sudah ditetapkan~Nya atau tidak.

 Simaklah baik-baik surat  Al-Insaan:2, 3  berikut :


Sesungguhnya Kami telah men-
ciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya
( dengan perintah dan larangan ), karena itu
Kami jadikan dia mendengar dan melihat.  Sesungguhnya Kami telah menunjukinya
jalan yang lurus, ada yang bersyukur
 dan  ada pula yang kafir.
 Al-Insaan (76):2, 3


Supir ugal-ugalan di jalan raya, atasan yang menjengkelkan, kolega yang picik, atau pun teman yang menyebalkan, ini semua terjadi karena Allah melengkapi kita dengan mata, telinga, dan hati. Oleh karena itu, orang-orang negatif ini harus dipandang sebagai ujian Allah pada jalur hablum-minannas. Apabila orang-orang ini dapat kita hadapi sesuai dengan tuntunan yang diberikan~Nya melalui Rasul~Nya, maka berarti kita lulus. Sebaliknya, bila mereka kita hadapi dengan emosi atau nafsu, maka berarti kita gagal. Hendaklah kita senantiasa mengingat pengalaman para bijak, "Kepuasan sejati bukanlah menuruti hawa nafsu, tetapi kepuasan sejati adalah keberhasilan menahan diri untuk tidak mengikuti hawa nafsu."
Dengan demikian, dapatlah dimengerti, bahwa semua masalah, baik itu masalah hubungan dengan Allah (seperti misalnya rasa malas mendirikan shalat), maupun masalah hubungan dengan manusia (misalnya menghadapi orang yang menyebalkan), pada hakikatnya adalah hendak menguji, mampu atau tidak kita bersikap sesuai dengan kehendak Allah dan Rasulullah saw. Bila kita dapat bertindak sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan dalam Al-Qur'an dan hadits dengan niat  " lillahi ta'ala", maka berarti kita lulus. Sebaliknya, bila masalah itu kita hadapi dengan nafsu, berarti kita gagal. 
Begitulah medan perjalanan yang harus ditempuh manusia dalam menuju surga. Dalam perjalanan itu pasti akan ditemui halangan dan rintangan yang kesemuanya itu merupakan ujian apakah kita mampu mengatasinya atau tidak. Tidak ada seorangpun manusia yang dibiarkan melalui jalan yang tanpa rintangan. Bahkan para kekasih~Nya sendiri, yaitu para nabi-nabi, melewati jalan yang jauh lebih sulit. Nabi Ibrahim diperintahkan menyembelih putranya sendiri; sementara nabi Ayub dimusnahkan seluruh harta kekayaan dan keturunannya, serta terserang penyakit menular yang sangat menjijikan. Sedangkan nabi Muhammad dilempari kotoran unta dan batu serta diboikot perekonomiannya sehingga beliau dan keluarganya serta para pengikutnya mengalami kelaparan yang amat sangat akibat kekurangan bahan makanan. Namun perlu kita ingat, bila ujian-ujian yang ditemui dalam perjalanan ini berhasil diatasi, maka hal itu akan diperhitungkan Allah sebagai amal saleh, yang kelak akan diganjar dengan pahala. Semakin banyak amal saleh yang kita lakukan, maka akan semakin besar pula peluang kita untuk masuk ke dalam surga. Lihatlah penegasan Allah dalam Al-Qur'an berikut ini :
 

Barangsiapa yang mengerjakan amal-
amal saleh baik ia laki-laki maupun perempuan sedangkan ia orang yang beriman, maka mereka
 itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.
An-Nisaa' (4):124



Dan surga itu diberikan kepada kamu
 berdasarkan amal yang telah kamu kerjakan.
 Az-Zuhruf (43):72



Sesungguhnya orang-orang yang ber-
iman dan beramal saleh, bagi mereka adalah
surga Firdaus menjadi tempat tinggal.  Mereka
kekal di dalamnya, mereka tidak ingin
 berpindah daripadanya.
Al-Kahfi (18):107,108



Dan orang-orang yang beriman
serta beramal saleh, mereka itu penghuni
surga, mereka kekal di dalamnya.
Al-Baqarah (2):82



Dan orang-orang yang beriman dan me-
ngerjakan amal-amal saleh, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam surga  .......
 An-Nisaa' (4):57 



Dan orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amal-amal saleh, Kami  tidak memikulkan kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka
itulah penghuni-penghuni surga, mere-
ka kekal di dalamnya.


Al-A'raaf (7):42  

Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar: www.pixabay.com

Kamis, 03 November 2016

TUJUAN HIDUP



Setelah kita memahami apa yang akhirnya akan dituju oleh setiap manusia, serta "kualitas" berasal dari suatu proses, maka yang perlu kita ketahui selanjutnya adalah, apa sebenarnya tujuan hidup manusia di dunia. Kesadaran ini sangat penting. Karena seseorang yang tidak mengetahui untuk apa tujuan hidupnya, maka pastilah ia tidak mengerti siapakah dirinya itu, dan dari mana ia berasal. Akibatnya, ia akan melangkah ke arah yang keliru.


Sebagaimana telah diuraikan, kehidupan di alam dunia sesungguhnya adalah awal kehidupan bagi manusia. Dan awal kehidupan ini sangat penting, karena bukankah awal yang baik akan membuahkan hasil akhir yang baik pula?


Selanjutnya, dengan memperhatikan firman-firman Allah yang telah dikutip sebelum ini, jelaslah bahwa tujuan hidup manusia di dunia, pada hakikatnya adalah untuk mencari / mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya bagi kehidupan akhirat. Tingkat manusia di akhirat nanti, akan ditentukan oleh sedikit banyaknya bekal yang dibawa dari dunia. Semakin banyak bekalnya, maka akan semakin tinggi pula tingkat kemuliaannya. Apakah yang dimaksud dengan bekal itu? Jika untuk mencapai kedudukan tinggi di masyarakat kita harus berbekal pendidikan yang cukup, maka untuk mencapai kedudukan tinggi di akhirat nanti, yang kita perlukan adalah pahala.


Dengan demikian dapatlah dikatakan, kehidupan di alam dunia ini adalah arena untuk mengumpulkan pahala bagi kehidupan akhirat. Semakin banyak pahala yang berhasil kita raih, maka semakin tinggi pula tingkat kita kelak. 




Abdullah bin Abbas berkata :

"Sesungguhnya Allah Ta'ala menjadikan dunia terdiri atas
 tiga bagian; sebagian bagi mukminin, sebagian bagi
orang munafik, sebagian bagi orang kafir. 
Maka orang mukmin menyiapkan perbekalan, 
orang munafik menjadikannya perhiasan, 
dan orang kafir 
menjadikannya tempat bersenang-senang."


Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir. Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com

Selasa, 25 Oktober 2016

KEBERADAAN MANUSIA MELALUI SUATU PROSES.



Allah selalu menciptakan sesuatu secara bertahap, yaitu dengan melalui suatu proses yang berkesinambungan. Manusia misalnya, ia diciptakan tidak langsung dewasa. Tetapi melalui proses yang  bermulai  dari  bentuk air, lalu  menjadi janin, kemudian menjadi bayi, lalu menjadi anak-anak, dan akhirnya menjadi dewasa. Demikian juga dengan tanaman. Dimulai dari biji, kemudian timbul tunas, batang, daun dan seterusnya, sampai akhirnya berbunga atau berbuah.








Yang perlu kita sadari dari fenomena ini ialah, baik atau buruknya kualitas manusia atau pun tumbuhan setelah dewasa nanti, sangat ditentukan oleh proses pemeliharaan atau bekal yang diterimanya dari sejak dini. Kualitas manusia di dunia, ditentukan sejak mulai berada dalam perut ibunya. Si calon ibu ini memakan makanan yang bergizi agar kelak bayinya sehat. Kemudian bayi tersebut diberinya makanan yang baik, serta dilindungi keamanannya supaya menjadi anak yang sehat. Selanjutnya, anak ini dilengkapi dengan gizi dan bekal pendidikan yang cukup, di sekolahkan yang tinggi, sehingga pada akhirnya ia menjadi orang.







Tumbuhan pun demikian.  Pemeliharaannya dari sejak kecil  diberi pupuk, disiram, disiangi, dilindungi dengan anti hama- akan menentukan kualitasnya pada saat ia berbunga atau berbuah nanti.

Demikian pulalah kiranya Allah menjadikan eksistensi manusia di akhirat.

Kualitas manusia di akhirat nanti, akan ditentukan setelah ia melalui proses ujian demi ujian terhadap ketaatannya pada Allah selama hidupnya di dunia.  Jadi jelaslah, kualitas manusia di akhirat nanti, tergantung pada keberhasilan manusia sendiri dalam mengatasi ujian-ujian yang dihadapi, apakah manusia mampu selalu taat mengikuti perintah-perintah~Nya, atau membangkang sebagaimana yang dilakukan iblis ketika diperintahkan sujud kepada Adam.



Barangsiapa taat kepada Allah dan
Rasul~Nya, niscaya Allah memasukkannya
ke dalam  surga.  Dan barangsiapa yang men-
durhakai Allah dan Rasul~Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan~Nya, niscaya Allah me-
masukkannya ke dalam api neraka sedang
ia kekal di dalamnya,  dan baginya
siksa yang menghinakan.
An-Nisaa' (4):13, 14






Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir. Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com