Tampilkan postingan dengan label Arti Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arti Hidup. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Juni 2017

KETIKA ALLAH BERKATA TIDAK.....

Ketika Allah berkata tidak .....

Ya Allah, ambillah kesombonganku dariku ...
"Tidak. Bukan  AKU  yang mengambil, tapi  kau  yang harus menyerahkannya!"

Ya Allah, berilah aku kesabaran ...
"Tidak. Kesabaran diperoleh dari ketabahan dalam menghadapi cobaan.  AKU tidak memberikan kesabaran, engkau harus meraihnya sendiri!"

Ya Allah, berilah aku kebahagiaan ...
"Tidak. AKU memberi keberkahan dan hikmah, sedangkan kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri!"

Ya Allah, jauhkan aku dari kesusahan ...
"Tidak. Penderitaan akan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu padaKu!"

Ya Allah, beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat ...

"Tidak. AKU beri kau akal dan kalbu serta Al-Qur'an, supaya kau dapat menikmati kehidupan!"










Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar: www.pixabay.com

Senin, 20 Februari 2017

DUNIA BABAK PRAKUALIFIKASI


Allah  berencana  membuat surga dan neraka, yang akan ditempati  antara  lain  oleh  manusia. Untuk  menentukan siapa yang menjadi penghuni surga dan siapa yang menempati neraka, maka Allah membuat "aturan main" yang harus ditaati, yaitu sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur'an dan Hadits. 

Manusia yang patuh melaksanakan "aturan main" ini, dijanji-kan~Nya menjadi penghuni surga. Sebaliknya, manusia yang selalu melanggar "aturan main" ini, akan dicampakkan~Nya ke dalam neraka. Dengan demikian, hidup manusia di dunia sebenarnya adalah "babak prakualifikasi" untuk menentukan tempat tinggalnya nanti di akhirat. Dan di sana, karena kita semua telah di-beri~Nya kesempatan dan peluang yang sama pada waktu hidup di dunia, di mana pun kita ditempatkan~Nya, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Masing-masing orang akan menghisab dirinya sendiri, dengan membaca kitab amal perbuatannya selagi hidup di dunia, yang akan digantungkan di lehernya masing-masing [ Al-Israa' (17):13-14 ].

“Maha Suci Allah  yang di tangan~Nya lah
segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu, siapa di antara
kamu yang lebih baik amalnya.”

Al-Mulk (67):1-2



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir. Permadi Alibasyah

Gambar : dreamstime,pixabay

Senin, 23 Januari 2017

ILUSTRASI SEJARAH


Pada suatu waktu, khalifah Sulaiman bin Abdul Malik datang ke Madinah. Beliau ingin bertemu dengan Abu Hazim, yaitu satu-satunya sahabat Rasulullah saw. yang masih hidup. Kepada Abu Hazim, Khalifah menanyakan tentang bagaimana keadaan seseorang itu pada waktu ia akan meninggal dunia. Maka Abu Hazim pun berkata: "Keadaan orang yang akan  meninggal  dunia itu ada dua macam. Pertama, seperti perantau yang dipanggil pulang ke kampung  halamannya  untuk  menyaksikan hasil kirimannya yang sudah dibuatkan rumah yang bagus dengan taman yang indah. Foto mengenai semuanya itu telah dikirimkan kepadanya sebelum dia berangkat. Kita dapat bayangkan bagaimana sukacitanya perasaan sang perantau, tentu ia ingin segera mempercepat kepulangannya itu. Apalagi dikhabarkan pula kepadanya, bahwa kedatangannya nanti akan disambut oleh masyarakat dengan riang gembira sebagai perantau yang berhasil. Adapun keadaan yang kedua, adalah seperti penjahat yang lari  dari penjara kemudian dia tertangkap kembali. Ia akan diseret, disiksa, dan dilemparkan dengan kejam ke tempatnya semula. Dapat dibayangkan, betapa takut dan ngerinya perasaan orang itu.”


Mendengar penjelasan Abu Hazim itu, kontan Khalifah menangis tersedu-sedu sambil berdoa dengan syahdu  “ Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan aku di waktu kembali kepada~Mu seperti layaknya seorang penjahat yang melarikan diri kemudian tertangkap kembali.”
Kelompok pertama, menggambarkan orang-orang yang meyakini bahwa suatu waktu mereka akan kembali kepada Allah; mereka berusaha sekuat  tenaga menyiapkan bekal yang banyak untuk perjalanan yang amat jauh di alam akhirat. Bekal itu ialah amal saleh dalam jalur hablum-minnallah dan jalur hablum-minnannas.


Kelompok kedua, mewakili orang-orang yang lalai menyiapkan perbekalan. Umur dihabiskannya untuk memenuhi kepuasan hawa nafsu belaka. Mereka gigih mencari fasilitas demi memuaskan kebutuhan nafsu, seperti foya-foya dan mengumbar nafsu syahwat, memiliki rumah seperti istana dan mobil-mobil mewah yang kesemuanya itu hanya untuk prestise saja. Mereka mengukur kesuksesan hidup di dunia dari kehebatan fasilitas atau materi yang mereka miliki.


Kehidupan dunia dijadikan indah
dalam pandangan orang-orang kafir, dan
mereka memandang hina orang-orang yang
beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa
 itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat.
Dan  Allah memberi rezki  kepada orang-orang
yang  dikehendaki~Nya tanpa batas.
Al-Baqarah (2):212

Allah berfirman : "Dan kepada
orang yang kafir pun Aku beri kesenangan
sementara, kemudian Aku paksa ia menja-
lani siksa neraka dan itulah seburuk-
buruk tempat kembali."
Al-Baqarah (2):126

Dan orang-orang yang kafir amal-
amal mereka adalah laksana fatamorgana
 di tanah yang datar
An-Nuur (24):39




Dengan demikian jelaslah, sebaik-baik kekayaan adalah kekayaan jiwa, dan sebaik-baik bekal adalah takwa; sedangkan seburuk- buruknya kejadian adalah kebutaan hati.




Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com

Rabu, 11 Januari 2017

KEHIDUPAN DUNIA ADALAH KESENANGAN YANG MENIPU



Allah menciptakan surga dan neraka, yang kelak akan diisi oleh manusia. Di mana nanti kita berada -surga atau neraka-  akan ditentukan melalui proses kompetisi yang  panjang selama  hidup di dunia; yaitu kompetisi dalam mengumpulkan pahala. Kompetisi ini berakhir pada waktu kita mati, karena tidak ada kesempatan pengumpulan pahala lagi setelah datangnya kematian (kecuali dari tiga perkara sebagaimana sabda Rasulullah saw, lihat hal. 44 ).

Sesungguhnya Kami telah menjadikan
apa yang ada di bumi sebagai perhiasan
bagi manusia, agar Kami menguji
  mereka siapakah di antara mereka
yang terbaik perbuatannya.
Al-Kahfi (18):7


Seseorang yang berhasil mengumpulkan pahala yang banyak, tempatnya  kelak  adalah  di surga.  Sedangkan  bagi  yang  lalai, tidak  disangsikan lagi, ia akan berada di tempat sebaliknya yaitu neraka. Jadi, surga adalah merupakan puncak hadiah yang akan diraih oleh manusia. Dan tentu saja untuk mendapatkan hadiah puncak ini  tidaklah mudah. Diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh, karena Allah akan  terus menerus menguji keuletan kita dalam mematuhi “aturan main" yang dibuat~Nya.

Apakah manusia itu mengira
bahwa mereka dibiarkan saja
mengatakan : ' kami telah beriman ', sedang
mereka tidak diuji lagi ?
Al-Ankabuut (29):2


Kami akan menguji kamu dengan keburukan 
dan kebaikan sebagai cobaan.
Al-Anbiya' (21):35


Rasulullah saw. pun memperingatkan kita :

"Dunia itu adalah nerakanya orang
mukmin dan surganya orang kafir.  Surga
itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai,
dan neraka itu dikelilingi oleh hal-hal
yang menyenangkan (nafsu)."
  




Memang bila direnungkan dengan pikiran yang jernih, niscaya kita akan mengakui bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah semata-mata untuk diuji. Seandainya hidup ini bukan untuk diuji, lalu kenapa Allah tidak langsung saja mengirimkan kita ke surga? Sedangkan bentuk ujiannya itu bermacam-macam. Hal ini tentunya adalah wajar, mengingat hadiahnya pun luar biasa, yaitu hidup abadi dalam kebahagiaan di surga. Ujian terberat bagi kebanyakan orang, umumnya adalah yang berkaitan dengan harta atau pangkat. Harta atau pangkat dapat dengan mudah membuat manusia terbius, terlupa akan tujuan hidupnya di dunia. Harta yang seharusnya digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan ketaatan pada aturan main~Nya, terbuai justru digunakan untuk melanggar 'aturan main' itu (!).  Dalam hal ini sayidina  Ali r.a. berwasiat, "Hati-hatilah terhadap hartamu, karena ia dapat menjadi bahan utama pelampiasan hawa nafsu!"  ( "... Ya Allah, letakanlah dunia di tangan kami dan jangan Engkau jadikan dunia menetap di hati kami ....." )

Dan ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anak kamu itu
hanyalah sebagai cobaan ....
Al-Anfaal (8):28

... Dan Kami coba mereka
dengan nikmat yang baik-baik dan
bencana yang buruk-buruk.
Al-A'raaf (7):168




Untuk dapat mengatasi berbagai macam ujian Allah ini, Kita  harus mempunyai bekal motivasi yang kuat. Karena hanya dengan motivasi yang kuat, akan tercipta semangat yang hebat. Dan dengan semangat yang hebat, segala godaan yang berasal dari  nafsu / setan  yang gila pun akan dapat ditaklukkan.
Ayat-ayat berikut ini dapat dijadikan sebagai bekal untuk motivasi :

Sesungguhnya barangsiapa
datang kepada Rabbnya dalam keadaan
berdosa, maka sesungguhnya baginya
neraka jahanam. Ia tidak mati di dalamnya
dan tidak (pula) hidup.
Thaahaa (20):74

Sesungguhnya kehidupan dunia
hanyalah  permainan dan senda gurau ....
Muhammad (47):36

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
sampai kamu masuk ke dalam kubur.
At-Takaatsur (102):1, 2

Maka janganlah harta benda dan anak-
anak, mereka menarik hatimu.   Sesungguhnya
Allah menghendaki dengan (memberi) harta
 benda dan anak-anak itu untuk menyiksa
mereka dalam kehidupan di dunia  dan kelak
akan melayang nyawa mereka, sedang
mereka dalam keadaan kafir.
At-Taubah (9):55

Ketahuilah bahwa kehidupan dunia
itu hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah
antara kamu serta berbangga-banggaan tentang
banyaknya harta dan anak, seperti hujan
yang tanam-tanamannya mengagumkan para
petani; kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian
menjadi hancur. .......... Dan kehidupan
dunia ini   tidak lain  hanyalah
kesenangan yang menipu.
Hadiid (57):20

Dan tidaklah kehidupan dunia ini
melainkan senda gurau dan main-main.
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang 
sebenar-benarnya kehidupan, kalau
mereka mengetahui.
Al-Ankabuut (29):64





Memang, bila dilihat hanya dari permukaan, dunia ini sangat indah dan mempesona, sehingga tidak heran banyak orang yang tergiur dan terpedaya olehnya. Padahal kalau orang mau menyelam melihat hakikat yang sebenarnya, maka akan nampaklah dunia itu tidak lain hanyalah tipuan kosong belaka. Betapa hari ini dibuatnya kita tertawa terpingkal-pingkal, dan esok hari dibuatnya kita menangis tersedu-sedu.
Seorang ahli hikmah berkata, "Barangsiapa yang menyaksikan dunia dengan menggunakan mata batinnya, niscaya ia tidak akan rela menggunakan sebagian besar waktu dan tenaganya hanya semata-mata untuk merengkuh dunia ke dalam genggamannya."
Kita  harus segera menyadari, dunia hanyalah batu loncatan bagi manusia untuk mencapai akhirat. Dunia bukanlah tempat yang diciptakan Allah untuk kita tinggali selamanya, tetapi dunia hanyalah sekedar tempat persinggahan sementara dalam perjalanan kita menuju kampung halaman yang telah disediakan Allah, yaitu akhirat. Bersikap prihatin dalam suatu perjalanan tentunya sangat bijaksana. Bukankah bagi seorang pengembara itu kenikmatan adanya di akhir perjalanan?  Ingatlah selalu pesan  Nabi kita :

"Akan datang kepada umatku suatu zaman, dimana mereka cinta kepada lima perkara dan lupa kepada lima perkara yang lain. Yaitu cinta kepada dunia, lupa kepada akhirat; cinta kepada harta, lupa kepada perhitungan; cinta kepada makhluk, lupa kepada Kholiq; cinta kepada dosa, lupa kepada taubat; dan cinta kepada mahligai lupa kepada kuburan."




Menurut Imam Ghazaly, kelak semua manusia akan melintasi jembatan yang di bawahnya terdapat neraka. Jembatan ini dikenal dengan sebutan shiraathalmustaqiim. Kelak bakal ada yang melewatinya secepat kilat, ada juga yang berlalu seperti angin atau sekencang larinya kuda, dan ada pula yang secepat terbangnya burung. Namun  di samping itu, ada  juga yang berjalan biasa, atau yang merangkak hingga hangus menjadi arang. Bahkan ada yang tersandung sehingga terjatuh ke dalam neraka.  Perbedaan cara ini dikarenakan perbedaan sikap hidup selama di dunia, yaitu apakah selalu taat, atau sering membangkang pada aturan main~Nya. Shiraathal mustaqiim bukanlah jembatan seperti di dunia yang dapat ditempuh dengan kekuatan fisik atau kaki, tetapi jembatan ini hanya dapat diseberangi dengan kekuatan hati. Hati yang selalu membangkang ibarat sepasang kaki yang lumpuh (pincang), sedangkan hati yang selalu taat pada aturan main~Nya ibarat sepasang kaki seorang pelari ulung.




Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah

Gambar : pixabay.com, infounik.com

Kamis, 03 November 2016

TUJUAN HIDUP



Setelah kita memahami apa yang akhirnya akan dituju oleh setiap manusia, serta "kualitas" berasal dari suatu proses, maka yang perlu kita ketahui selanjutnya adalah, apa sebenarnya tujuan hidup manusia di dunia. Kesadaran ini sangat penting. Karena seseorang yang tidak mengetahui untuk apa tujuan hidupnya, maka pastilah ia tidak mengerti siapakah dirinya itu, dan dari mana ia berasal. Akibatnya, ia akan melangkah ke arah yang keliru.


Sebagaimana telah diuraikan, kehidupan di alam dunia sesungguhnya adalah awal kehidupan bagi manusia. Dan awal kehidupan ini sangat penting, karena bukankah awal yang baik akan membuahkan hasil akhir yang baik pula?


Selanjutnya, dengan memperhatikan firman-firman Allah yang telah dikutip sebelum ini, jelaslah bahwa tujuan hidup manusia di dunia, pada hakikatnya adalah untuk mencari / mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya bagi kehidupan akhirat. Tingkat manusia di akhirat nanti, akan ditentukan oleh sedikit banyaknya bekal yang dibawa dari dunia. Semakin banyak bekalnya, maka akan semakin tinggi pula tingkat kemuliaannya. Apakah yang dimaksud dengan bekal itu? Jika untuk mencapai kedudukan tinggi di masyarakat kita harus berbekal pendidikan yang cukup, maka untuk mencapai kedudukan tinggi di akhirat nanti, yang kita perlukan adalah pahala.


Dengan demikian dapatlah dikatakan, kehidupan di alam dunia ini adalah arena untuk mengumpulkan pahala bagi kehidupan akhirat. Semakin banyak pahala yang berhasil kita raih, maka semakin tinggi pula tingkat kita kelak. 




Abdullah bin Abbas berkata :

"Sesungguhnya Allah Ta'ala menjadikan dunia terdiri atas
 tiga bagian; sebagian bagi mukminin, sebagian bagi
orang munafik, sebagian bagi orang kafir. 
Maka orang mukmin menyiapkan perbekalan, 
orang munafik menjadikannya perhiasan, 
dan orang kafir 
menjadikannya tempat bersenang-senang."


Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir. Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com

Jumat, 14 Oktober 2016

UNTUK APA MANUSIA HIDUP DI DUNIA ?




Semua manusia , tanpa terkecuali , pasti akan mati. 


Bila demikian, lalu apa sebenarnya yang akan dituju oleh manusia  di alam dunia ini. 


Apakah manusia hidup semata-mata hanya untuk bekerja, berumah tangga, bersenang-senang dengan harta yang dimilikinya, atau berkeluh kesah dalam kemiskinan ....kemudian ia lalu mati tidak berdaya ? 


Apakah setelah mati itu ia akan hilang menguap seperti halnya api obor yang padam ? Atau , apakah manusia yang dilahirkan dalam "ketiadaan" itu akan mati dalam "ketiadaan" pula ? 


Bila ya, apakah berarti hidup manusia di dunia ini sia-sia belaka? Tentu tidaklah demikian. Allah telah berfirman, bahwa manusia akan terus ada dan tidak akan pernah menghilang atau menguap. Manusia akan menjalani kehidupan abadi di akhirat.


Dengan demikian , jelaslah bahwa sesungguhnya yang dituju oleh semua manusia  adalah akhirat !


Cepat atau lambat , suka atau tidak suka , semua manusia pasti akan menuju kesana.






Apakah kalian mengira bahwa Kami 
menciptkan kalian sia-sia, dan bahwa 
sesungguhnya kalian tidak akan di-
kembalikan pada Kami ?
Al-Mu'minun (23) : 115


Apakah manusia mengira,
bahwa ia akan dibiarkan begitu saja 
(tanpa pertanggungjawaban ) ?
Al-Qiyamah (75) : 36


Sesungguhnya hari kiamat akan 
datang (dan) Aku merahasiakan (waktunya)
agar tiap-tiap diri dibalas dengan apa
yang diusahakannya.
Thaahaa (20) : 15


Dan tidaklah kehidupan dunia ini me-
lainkan senda gurau dan main-main.Dan
sesungguhnya akhirat itulah yang se-
benar-benarnya kehidupan, kalau 
mereka mengetahui.
Al-Ankabuut (29) : 64


Dan sesungguhnya orang-orang yang tidak
 beriman kepada kehidupan akhirat, Kami sedia-
kan bagi mereka azab yang pedih.
Al-Israa (17) : 10


Dan barangsiapa yang menghendaki kehi-
dupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan
sungguh-sungguh sedang ia adalah mu'min,
maka mereka itu orang-orang yang usaha-
nya dibalas dengan baik.
Al-Israa (17) : 19


Sumber : Buku Bahan Renunga Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com






Senin, 03 Oktober 2016

HIDUP YANG SIA-SIA

Percuma hidup di dunia 
kalau di alam keabadian nanti
 tidak masuk surga



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar:www.pixabay.com