Senin, 10 Juli 2017

KEUTAMAAN ILMU


Ilmu merupakan bahan dasar untuk bertafakur. Ilmu diperoleh melalui kesungguhan belajar. Seseorang sekalipun dianugerahi otak yang jenius, tetap saja selamanya akan bodoh bila ia tidak mau belajar. Orang yang memiliki banyak ilmu, tidak disangsikan lagi, akan dapat menghasilkan tafakur yang berbobot. Itulah mungkin salah satu sebabnya mengapa Islam meletakkan ilmu di atas segala-galanya. Banyak sekali riwayat Rasulullah saw. yang menerangkan keutamaan ilmu, salah satunya adalah sebagai berikut :

Seorang Anshar bertanya kepada Rasulullah saw, "Wahai Rasulullah, jika ada orang yang meninggal dunia bertepatan dengan acara majlis ulama, manakah yang lebih berhak mendapat perhatian?"   Rasulullah saw. pun lalu menjawab, "Jika telah ada orang yang mengantarkan dan menguburkan jenazah itu, maka menghadiri majlis ulama itu lebih utama daripada melayat seribu jenazah. Bahkan ia lebih utama daripada menjenguk seribu orang sakit, atau shalat seribu hari seribu malam, atau sedekah seribu dirham pada fakir miskin, atau pun seribu kali berhaji; bahkan lebih utama daripada seribu kali berperang di jalan Allah dengan jiwa dan hartamu!   Tahukah engkau bahwa Allah dipatuhi dengan ilmu, dan disembah dengan ilmu pula? Tahukah engkau bahwa kebaikan dunia dan akhirat adalah dengan ilmu, sedangkan keburukan dunia dan akhirat adalah dengan kebodohan?"

Sayidina Ali bin Abi Thalib seorang sahabat Rasulullah saw. yang sangat terkenal kebijakannya berkata, "Barangsiapa sedang mencari ilmu, maka sebenarnya ia sedang mencari surga. Dan barangsiapa mencari kemaksiatan, maka sebenarnya dia sedang mencari neraka."

Sementara itu Ibn 'Atha'illah seorang ulama sufi yang wafat tahun 1309 mengatakan, "Ilmu yang paling bermanfaat adalah yang sinar-nya melapangkan dada, dan yang dengannya kalbu tersingkap selubungnya."

Rasanya tidaklah salah bila saya berpendapat bahwa ilmu yang paling utama mestinya adalah ilmu yang dapat membuat pemiliknya berperilaku selaras dengan maksud Allah menciptakan manusia, yaitu untuk beribadah taat mematuhi segala aturan~Nya. Adapun ilmu-ilmu lainnya seperti matematika, kedokteran, atau pun ilmu ekonomi bukannya berarti tidak penting.Tetapi harus diartikan bahwa kepiawaian seseorang dalam ilmu sains atau teknologi menjadi tidak bermakna bila ia tidak dapat berperilaku sesuai dengan tujuan untuk apa ia diciptakan. Disamping itu perlu juga diingat bahwa ilmu sains atau teknologi selalu menjadi usang dengan berjalannya waktu, sedangkan ilmu yang menjadikan kita taat pada Allah dan Rasul~Nya tidak akan pernah usang dimakan zaman.

Ilmu dapat diibaratkan seperti baterai (aki) mobil. Semakin sering mobil itu digunakan, maka akan  semakin besar pula muatan listrik baterai tersebut. Sebaliknya, jika mobil itu jarang digunakan maka baterainya akan menjadi lemah dan akhirnya rusak. Rasulullah saw dalam hal ini pernah mengingatkan :

"Barangsiapa mengamalkan apa-apa
yang ia  ketahui,  maka Allah akan mewaris-
kan kepadanya ilmu yang belum diketahuinya,
 dan Allah akan menolong dia dalam amalannya
 sehingga ia mendapatkan surga. Dan barangsiapa
yang tidak mengamalkan ilmunya, maka ia ter-
 sesat  oleh ilmunya itu,  dan Allah tidak meno-
long dia dalam amalannya,  sehingga ia
akan mendapatkan neraka.”

Disamping ilmu akan menjadi 'rusak' bila tidak diamalkan, ia juga akan 'rusak' bila pemiliknya merasa tinggi (sombong) dengan ilmu-nya itu; yaitu sebagaimana banjir yang menghancurkan tempat yang tinggi.
Allah berfirman dalam Al-Qur'an bahwa Ia akan meninggikan orang yang berilmu (Al-Mujaadilah11), namun perlu diingat : memiliki banyak ilmu tapi tidak terwujud dalam perbuatan tidaklah ada gunanya.

Wahai manusia! Ilmu yang tak mem-
buahkan perbuatan, laksana petir dan guntur
yang tak membawa hujan!
Hadits Qudsi

Sayidina Ali bin Abi Thalib yang oleh Rasulullah saw. dijuluki sebagai pintu gerbangnya ilmu mengatakan, "Tiada kekayaan lebih utama daripada akal. Tiada kepapaan lebih menyedihkan daripada kebodohan.  Tiada  warisan  lebih baik  daripada  pendidikan."
Inilah  jawaban-jawaban dari  Imam Ali bin Abi Thalib  ketika ditanya tentang mana yang lebih utama antara ilmu dengan harta :

1)"Ilmu lebih utama daripada harta, ilmu adalah pusaka para Nabi, sedang harta adalah pusaka Karun, Fir’aun, dan para pengumbar nafsu.”
2)"Ilmu lebih utama daripada harta, karena ilmu itu menjagamu sedangkan harta malah engkau yang harus menjaganya”
3)“Harta itu jika engkau 'tasarrufkan' ( berikan ) menjadi berkurang, sebaliknya ilmu jika engkau 'tasarrufkan' malahan bertambah"
4)“Pemilik harta disebut dengan nama bakhil (kikir) dan buruk, tetapi pemilik ilmu disebut dengan nama keagungan dan kemuliaan".
5)“Pemilik harta itu musuhnya banyak, sedang pemilik ilmu temannya banyak.”
6) “Ilmu lebih utama daripada harta, karena di akhirat nanti pemilik  harta akan dihisab, sedang orang berilmu akan memperoleh syafa'at.”
7)“Harta akan hancur berantakan karena lama ditimbun zaman, tetapi ilmu tak akan rusak dan musnah walau ditimbun zaman.”
8)“Harta membuat hati seseorang menjadi keras, sedang ilmu malah membuat hati menjadi bercahaya.”
9)“Ilmu lebih utama daripada harta, karena pemilik harta bisa mengaku menjadi Tuhan akibat harta  yang  dimilikinya, sedang orang yang berilmu justru mengaku sebagai hamba karena ilmunya.”

Prof. Dr. Hamka berkata :

"Ilmu itu tiang untuk kesempurnaan akal. Bertambah luas akal, bertambah luaslah hidup, bertambah datanglah bahagia. Bertambah sempit akal, bertambah  sempit pula  hidup, bertambah datanglah celaka."

IMAN TANPA ILMU SAMA DENGAN PELITA DI TANGAN BAYI,
SEDANGKAN ILMU TANPA IMAN BAGAIKAN PELITA DI TANGAN PENCURI.



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir. Permadi Alibasyah
Gambar: www.pixabay.com