Senin, 15 Mei 2017

TAFAKUR ( MERENUNG ) SEBAGAI JALAN MASUKNYA HIKMAH
Bagian 3


Apa yang harus ditafakuri ?

Sesungguhnya buah dari tafakur adalah keyakinan-keyakinan Ilahiyyah yang akan memudahkan kita dalam pengendalian diri agar dapat selalu taat pada keinginan Allah dan Rasul~Nya. Oleh karena itu banyak obyek yang dapat ditafakuri, antara lain : 
  • Bertafakur mengenai  tanda-tanda  yang  menunjukkan kekuasaan Allah; akan lahir darinya rasa tawadhu (rendah hati) dan rasa takzim akan  keagungan Allah,
  • Bertafakur mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan; akan lahir darinya rasa cinta dan syukur kepada Allah,
  • Bertafakur tentang janji-janji Allah; akan lahir darinya rasa cinta kepada akhirat,
  • Bertafakur tentang ancaman Allah; akan lahir darinya rasa takut kepada Allah,
  • Bertafakur tentang sejauh mana ketaatan kita kepada Allah sementara Ia selalu mencurahkan karunianya kepada kita; akan lahir darinya kegairahan dalam beribadah.

 Contoh-contoh tafakur :
  1. Bila direnungkan, sedetik dari hidup ini pun sudah mukjizat. Bagaimana kita bisa bernafas, punya jantung yang berdetak, mata berkedip, telinga yang dapat mendengar, lidah yang dapat merasakan kenikmatan makanan, dan seterusnya. Semuanya sungguh menakjubkan! Ketika gigi kita tanggal satu, kita menjadi susah makan. Ya Allah, gigi satu hilang begitu susahnya. Sekian tahun Engkau berikan gigi itu, baru sekarang disadari artinya ketika dia copot.  Satu gigi menjadi begitu bernilainya, lalu bagaimana dengan tangan, hidung, mata, telinga dan otak? Dengan bertafakur seperti ini, akan timbul rasa malu. Betapa Allah telah memberikan karunia yang sangat banyak, tetapi kita tidak mengabdi kepada~Nya dengan bersungguh-sungguh.
  2. Untuk tafakur yang agak berat, marilah kita ikuti renungan kekhawatiran seorang manusia yang sadar akan adanya kehidupan setelah kematian :
Sesaat setelah rohku berpisah dengan jasad, yaitu ketika aku mulai memasuki alam kehidupan yang baru, apakah aku dapat tersenyum menjumpai malaikat yang memberikan salam kepadaku :   Wahai anak Adam, engkaukah yang meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkanmu? ‚ Wahai anak Adam, engkaukah yang merengkuh dunia, atau dunia yang merengkuhmu? Wahai anak Adam, engkaukah yang mematikan dunia, atau dunia yang mematikanmu?

Ketika jasadku digeletakkan menunggu untuk dimandikan, mampukah  aku tegar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan malaikat kepada- ku :  Wahai anak Adam, dimanakah tubuhmu yang kuat itu, mengapa kini engkau tidak berdaya?  ‚ Wahai anak Adam, dimanakah lisanmu yang lantang dulu, mengapa kini engkau terdiam?  Wahai anak Adam, dimanakah orang-orang yang mengasihimu, mengapa kini mereka membiarkanmu tergeletak sendirian tanpa daya?

Sewaktu mayatku dibaringkan di atas kain kafan, siap dibungkus, mampukah aku menuruti apa yang dikatakan malaikat :   Wahai anak Adam, bersiaplah engkau pergi jauh tanpa membawa bekal!  ‚ Wahai anak Adam, pergilah dari rumahmu dan jangan kembali!  Wahai anak Adam, naikilah tandu yang tidak akan pernah engkau nikmati lagi setelah itu!

Tatkala jenazahku dipikul di atas keranda, sanggupkah aku bersikap anggun seperti seorang raja yang ditandu perajurit, ketika malaikat berseru kepadaku :  Wahai anak Adam, bahagialah engkau apabila engkau termasuk orang-orang yang bertobat, ‚ Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila selama di dunia engkau selalu taat pada perintah Allah dan Rasul~Nya,  Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila yang menjadi teman abadimu di alam kubur adalah ridha Allah, celakalah engkau apabila teman abadimu murka Allah!

Ketika aku dibaringkan untuk dishalati, akankah diriku mampu bersikap 'manis' tatkala malaikat berbisik di telingaku :  Wahai anak Adam,       semua perbuatan yang telah engkau lakukan akan engkau lihat kembali,  ‚ Wahai anak Adam, apabila selama ini engkau tenggelam dalam amal   soleh maka bergembiralah,  Wahai anak Adam, apabila selama ini engkau tenggelam dalam kemaksiatan menuruti nafsu, maka sambutlah penderitaan akibat keenggananmu mengabdi kepada~Nya!

Sewaktu jasadku berada di tepi kubur siap untuk diturunkan ke liang     lahat, akankah lidahku kelu menjawab pertanyaan malaikat yang berbisik lirih :   Wahai anak Adam, kedamaian apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah cacing ini?   ‚ Wahai anak Adam, cahaya apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah yang gelap ini?  Wahai anak Adam, siapakah temanmu yang kau ajak menemanimu dalam penantian panjang ini?

Tatkala aku sudah diletakkan di liang kubur, masih mampukah aku tersenyum menjawab ucapan selamat datang yang disampaikan bumi kepada-ku :   Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bergelak tawa, kini setelah berada di perutku apakah engkau akan tertawa juga, ataukah engkau akan menangis menyesali diri?  ‚ Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bergembira ria, kini setelah berada di perutku apakah kegembiraan itu masih tersisa, ataukah engkau akan tenggelam dalam duka nestapa? Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bersilat lidah, masihkah kini engkau "bernyanyi" ataukah engkau akan diam membisu seribu bahasa bergelut dengan penyesalan?

Setelah aku sendiri terbujur kaku dihimpit bumi tanpa daya dalam liang lahat, sementara sanak keluargaku beserta teman-teman karibku pulang ke rumahnya masing-masing, akankah kecemasan menguasai diriku  ketika Allah swt berfirman : "Wahai hamba~Ku, sekarang engkau terasing-kan sendirian. Mereka telah pergi meninggalkan engkau dalam kesempitan dan kegelapan. Padahal dulu engkau membangkang tidak mau taat kepada~Ku semata-mata untuk kepentingan mereka. Balasan apa yang engkau peroleh dari mereka? Masih pantaskah engkau mengharapkan surga~Ku?"

    
    Saduran bebas dari : "Jalan ke Hadirat Allah" : Syamsul Rizal.



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir. Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com