Senin, 23 Januari 2017

ILUSTRASI SEJARAH


Pada suatu waktu, khalifah Sulaiman bin Abdul Malik datang ke Madinah. Beliau ingin bertemu dengan Abu Hazim, yaitu satu-satunya sahabat Rasulullah saw. yang masih hidup. Kepada Abu Hazim, Khalifah menanyakan tentang bagaimana keadaan seseorang itu pada waktu ia akan meninggal dunia. Maka Abu Hazim pun berkata: "Keadaan orang yang akan  meninggal  dunia itu ada dua macam. Pertama, seperti perantau yang dipanggil pulang ke kampung  halamannya  untuk  menyaksikan hasil kirimannya yang sudah dibuatkan rumah yang bagus dengan taman yang indah. Foto mengenai semuanya itu telah dikirimkan kepadanya sebelum dia berangkat. Kita dapat bayangkan bagaimana sukacitanya perasaan sang perantau, tentu ia ingin segera mempercepat kepulangannya itu. Apalagi dikhabarkan pula kepadanya, bahwa kedatangannya nanti akan disambut oleh masyarakat dengan riang gembira sebagai perantau yang berhasil. Adapun keadaan yang kedua, adalah seperti penjahat yang lari  dari penjara kemudian dia tertangkap kembali. Ia akan diseret, disiksa, dan dilemparkan dengan kejam ke tempatnya semula. Dapat dibayangkan, betapa takut dan ngerinya perasaan orang itu.”


Mendengar penjelasan Abu Hazim itu, kontan Khalifah menangis tersedu-sedu sambil berdoa dengan syahdu  “ Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan aku di waktu kembali kepada~Mu seperti layaknya seorang penjahat yang melarikan diri kemudian tertangkap kembali.”
Kelompok pertama, menggambarkan orang-orang yang meyakini bahwa suatu waktu mereka akan kembali kepada Allah; mereka berusaha sekuat  tenaga menyiapkan bekal yang banyak untuk perjalanan yang amat jauh di alam akhirat. Bekal itu ialah amal saleh dalam jalur hablum-minnallah dan jalur hablum-minnannas.


Kelompok kedua, mewakili orang-orang yang lalai menyiapkan perbekalan. Umur dihabiskannya untuk memenuhi kepuasan hawa nafsu belaka. Mereka gigih mencari fasilitas demi memuaskan kebutuhan nafsu, seperti foya-foya dan mengumbar nafsu syahwat, memiliki rumah seperti istana dan mobil-mobil mewah yang kesemuanya itu hanya untuk prestise saja. Mereka mengukur kesuksesan hidup di dunia dari kehebatan fasilitas atau materi yang mereka miliki.


Kehidupan dunia dijadikan indah
dalam pandangan orang-orang kafir, dan
mereka memandang hina orang-orang yang
beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa
 itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat.
Dan  Allah memberi rezki  kepada orang-orang
yang  dikehendaki~Nya tanpa batas.
Al-Baqarah (2):212

Allah berfirman : "Dan kepada
orang yang kafir pun Aku beri kesenangan
sementara, kemudian Aku paksa ia menja-
lani siksa neraka dan itulah seburuk-
buruk tempat kembali."
Al-Baqarah (2):126

Dan orang-orang yang kafir amal-
amal mereka adalah laksana fatamorgana
 di tanah yang datar
An-Nuur (24):39




Dengan demikian jelaslah, sebaik-baik kekayaan adalah kekayaan jiwa, dan sebaik-baik bekal adalah takwa; sedangkan seburuk- buruknya kejadian adalah kebutaan hati.




Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com