Rabu, 11 Januari 2017

KEHIDUPAN DUNIA ADALAH KESENANGAN YANG MENIPU



Allah menciptakan surga dan neraka, yang kelak akan diisi oleh manusia. Di mana nanti kita berada -surga atau neraka-  akan ditentukan melalui proses kompetisi yang  panjang selama  hidup di dunia; yaitu kompetisi dalam mengumpulkan pahala. Kompetisi ini berakhir pada waktu kita mati, karena tidak ada kesempatan pengumpulan pahala lagi setelah datangnya kematian (kecuali dari tiga perkara sebagaimana sabda Rasulullah saw, lihat hal. 44 ).

Sesungguhnya Kami telah menjadikan
apa yang ada di bumi sebagai perhiasan
bagi manusia, agar Kami menguji
  mereka siapakah di antara mereka
yang terbaik perbuatannya.
Al-Kahfi (18):7


Seseorang yang berhasil mengumpulkan pahala yang banyak, tempatnya  kelak  adalah  di surga.  Sedangkan  bagi  yang  lalai, tidak  disangsikan lagi, ia akan berada di tempat sebaliknya yaitu neraka. Jadi, surga adalah merupakan puncak hadiah yang akan diraih oleh manusia. Dan tentu saja untuk mendapatkan hadiah puncak ini  tidaklah mudah. Diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh, karena Allah akan  terus menerus menguji keuletan kita dalam mematuhi “aturan main" yang dibuat~Nya.

Apakah manusia itu mengira
bahwa mereka dibiarkan saja
mengatakan : ' kami telah beriman ', sedang
mereka tidak diuji lagi ?
Al-Ankabuut (29):2


Kami akan menguji kamu dengan keburukan 
dan kebaikan sebagai cobaan.
Al-Anbiya' (21):35


Rasulullah saw. pun memperingatkan kita :

"Dunia itu adalah nerakanya orang
mukmin dan surganya orang kafir.  Surga
itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai,
dan neraka itu dikelilingi oleh hal-hal
yang menyenangkan (nafsu)."
  




Memang bila direnungkan dengan pikiran yang jernih, niscaya kita akan mengakui bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah semata-mata untuk diuji. Seandainya hidup ini bukan untuk diuji, lalu kenapa Allah tidak langsung saja mengirimkan kita ke surga? Sedangkan bentuk ujiannya itu bermacam-macam. Hal ini tentunya adalah wajar, mengingat hadiahnya pun luar biasa, yaitu hidup abadi dalam kebahagiaan di surga. Ujian terberat bagi kebanyakan orang, umumnya adalah yang berkaitan dengan harta atau pangkat. Harta atau pangkat dapat dengan mudah membuat manusia terbius, terlupa akan tujuan hidupnya di dunia. Harta yang seharusnya digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan ketaatan pada aturan main~Nya, terbuai justru digunakan untuk melanggar 'aturan main' itu (!).  Dalam hal ini sayidina  Ali r.a. berwasiat, "Hati-hatilah terhadap hartamu, karena ia dapat menjadi bahan utama pelampiasan hawa nafsu!"  ( "... Ya Allah, letakanlah dunia di tangan kami dan jangan Engkau jadikan dunia menetap di hati kami ....." )

Dan ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anak kamu itu
hanyalah sebagai cobaan ....
Al-Anfaal (8):28

... Dan Kami coba mereka
dengan nikmat yang baik-baik dan
bencana yang buruk-buruk.
Al-A'raaf (7):168




Untuk dapat mengatasi berbagai macam ujian Allah ini, Kita  harus mempunyai bekal motivasi yang kuat. Karena hanya dengan motivasi yang kuat, akan tercipta semangat yang hebat. Dan dengan semangat yang hebat, segala godaan yang berasal dari  nafsu / setan  yang gila pun akan dapat ditaklukkan.
Ayat-ayat berikut ini dapat dijadikan sebagai bekal untuk motivasi :

Sesungguhnya barangsiapa
datang kepada Rabbnya dalam keadaan
berdosa, maka sesungguhnya baginya
neraka jahanam. Ia tidak mati di dalamnya
dan tidak (pula) hidup.
Thaahaa (20):74

Sesungguhnya kehidupan dunia
hanyalah  permainan dan senda gurau ....
Muhammad (47):36

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
sampai kamu masuk ke dalam kubur.
At-Takaatsur (102):1, 2

Maka janganlah harta benda dan anak-
anak, mereka menarik hatimu.   Sesungguhnya
Allah menghendaki dengan (memberi) harta
 benda dan anak-anak itu untuk menyiksa
mereka dalam kehidupan di dunia  dan kelak
akan melayang nyawa mereka, sedang
mereka dalam keadaan kafir.
At-Taubah (9):55

Ketahuilah bahwa kehidupan dunia
itu hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah
antara kamu serta berbangga-banggaan tentang
banyaknya harta dan anak, seperti hujan
yang tanam-tanamannya mengagumkan para
petani; kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian
menjadi hancur. .......... Dan kehidupan
dunia ini   tidak lain  hanyalah
kesenangan yang menipu.
Hadiid (57):20

Dan tidaklah kehidupan dunia ini
melainkan senda gurau dan main-main.
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang 
sebenar-benarnya kehidupan, kalau
mereka mengetahui.
Al-Ankabuut (29):64





Memang, bila dilihat hanya dari permukaan, dunia ini sangat indah dan mempesona, sehingga tidak heran banyak orang yang tergiur dan terpedaya olehnya. Padahal kalau orang mau menyelam melihat hakikat yang sebenarnya, maka akan nampaklah dunia itu tidak lain hanyalah tipuan kosong belaka. Betapa hari ini dibuatnya kita tertawa terpingkal-pingkal, dan esok hari dibuatnya kita menangis tersedu-sedu.
Seorang ahli hikmah berkata, "Barangsiapa yang menyaksikan dunia dengan menggunakan mata batinnya, niscaya ia tidak akan rela menggunakan sebagian besar waktu dan tenaganya hanya semata-mata untuk merengkuh dunia ke dalam genggamannya."
Kita  harus segera menyadari, dunia hanyalah batu loncatan bagi manusia untuk mencapai akhirat. Dunia bukanlah tempat yang diciptakan Allah untuk kita tinggali selamanya, tetapi dunia hanyalah sekedar tempat persinggahan sementara dalam perjalanan kita menuju kampung halaman yang telah disediakan Allah, yaitu akhirat. Bersikap prihatin dalam suatu perjalanan tentunya sangat bijaksana. Bukankah bagi seorang pengembara itu kenikmatan adanya di akhir perjalanan?  Ingatlah selalu pesan  Nabi kita :

"Akan datang kepada umatku suatu zaman, dimana mereka cinta kepada lima perkara dan lupa kepada lima perkara yang lain. Yaitu cinta kepada dunia, lupa kepada akhirat; cinta kepada harta, lupa kepada perhitungan; cinta kepada makhluk, lupa kepada Kholiq; cinta kepada dosa, lupa kepada taubat; dan cinta kepada mahligai lupa kepada kuburan."




Menurut Imam Ghazaly, kelak semua manusia akan melintasi jembatan yang di bawahnya terdapat neraka. Jembatan ini dikenal dengan sebutan shiraathalmustaqiim. Kelak bakal ada yang melewatinya secepat kilat, ada juga yang berlalu seperti angin atau sekencang larinya kuda, dan ada pula yang secepat terbangnya burung. Namun  di samping itu, ada  juga yang berjalan biasa, atau yang merangkak hingga hangus menjadi arang. Bahkan ada yang tersandung sehingga terjatuh ke dalam neraka.  Perbedaan cara ini dikarenakan perbedaan sikap hidup selama di dunia, yaitu apakah selalu taat, atau sering membangkang pada aturan main~Nya. Shiraathal mustaqiim bukanlah jembatan seperti di dunia yang dapat ditempuh dengan kekuatan fisik atau kaki, tetapi jembatan ini hanya dapat diseberangi dengan kekuatan hati. Hati yang selalu membangkang ibarat sepasang kaki yang lumpuh (pincang), sedangkan hati yang selalu taat pada aturan main~Nya ibarat sepasang kaki seorang pelari ulung.




Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah

Gambar : pixabay.com, infounik.com