Senin, 12 Juni 2017

KETIKA ALLAH BERKATA TIDAK.....

Ketika Allah berkata tidak .....

Ya Allah, ambillah kesombonganku dariku ...
"Tidak. Bukan  AKU  yang mengambil, tapi  kau  yang harus menyerahkannya!"

Ya Allah, berilah aku kesabaran ...
"Tidak. Kesabaran diperoleh dari ketabahan dalam menghadapi cobaan.  AKU tidak memberikan kesabaran, engkau harus meraihnya sendiri!"

Ya Allah, berilah aku kebahagiaan ...
"Tidak. AKU memberi keberkahan dan hikmah, sedangkan kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri!"

Ya Allah, jauhkan aku dari kesusahan ...
"Tidak. Penderitaan akan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu padaKu!"

Ya Allah, beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat ...

"Tidak. AKU beri kau akal dan kalbu serta Al-Qur'an, supaya kau dapat menikmati kehidupan!"










Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar: www.pixabay.com

Senin, 29 Mei 2017

WAKTU NAFAS YANG TAK KAN KEMBALI.....

Manusia hanyalah pengendara di atas punggung usianya

Digulung hari demi hari, bulan, dan tahun tanpa terasa

Nafasku terus berjalan, setia menuntunku ke pintu kematian

Sebenarnya dunialah yang kujauhi dan liang kuburlah yang kudekati

Satu hari berlalu, berarti satu hari berkurang umurku

Umurku yang tersisa di hari ini sungguh tidak ternilai harganya, sebab esok hari belum tentu jadi bagian dari diriku


Karena itu, jika satu hari berlalu tapi tiada pahala dan keyakinanku yang bertambah, apalah arti hidupku di mata Allah.



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar: www.pixabay.com

Senin, 15 Mei 2017

TAFAKUR ( MERENUNG ) SEBAGAI JALAN MASUKNYA HIKMAH
Bagian 3


Apa yang harus ditafakuri ?

Sesungguhnya buah dari tafakur adalah keyakinan-keyakinan Ilahiyyah yang akan memudahkan kita dalam pengendalian diri agar dapat selalu taat pada keinginan Allah dan Rasul~Nya. Oleh karena itu banyak obyek yang dapat ditafakuri, antara lain : 
  • Bertafakur mengenai  tanda-tanda  yang  menunjukkan kekuasaan Allah; akan lahir darinya rasa tawadhu (rendah hati) dan rasa takzim akan  keagungan Allah,
  • Bertafakur mengenai kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan; akan lahir darinya rasa cinta dan syukur kepada Allah,
  • Bertafakur tentang janji-janji Allah; akan lahir darinya rasa cinta kepada akhirat,
  • Bertafakur tentang ancaman Allah; akan lahir darinya rasa takut kepada Allah,
  • Bertafakur tentang sejauh mana ketaatan kita kepada Allah sementara Ia selalu mencurahkan karunianya kepada kita; akan lahir darinya kegairahan dalam beribadah.

 Contoh-contoh tafakur :
  1. Bila direnungkan, sedetik dari hidup ini pun sudah mukjizat. Bagaimana kita bisa bernafas, punya jantung yang berdetak, mata berkedip, telinga yang dapat mendengar, lidah yang dapat merasakan kenikmatan makanan, dan seterusnya. Semuanya sungguh menakjubkan! Ketika gigi kita tanggal satu, kita menjadi susah makan. Ya Allah, gigi satu hilang begitu susahnya. Sekian tahun Engkau berikan gigi itu, baru sekarang disadari artinya ketika dia copot.  Satu gigi menjadi begitu bernilainya, lalu bagaimana dengan tangan, hidung, mata, telinga dan otak? Dengan bertafakur seperti ini, akan timbul rasa malu. Betapa Allah telah memberikan karunia yang sangat banyak, tetapi kita tidak mengabdi kepada~Nya dengan bersungguh-sungguh.
  2. Untuk tafakur yang agak berat, marilah kita ikuti renungan kekhawatiran seorang manusia yang sadar akan adanya kehidupan setelah kematian :
Sesaat setelah rohku berpisah dengan jasad, yaitu ketika aku mulai memasuki alam kehidupan yang baru, apakah aku dapat tersenyum menjumpai malaikat yang memberikan salam kepadaku :   Wahai anak Adam, engkaukah yang meninggalkan dunia, atau dunia yang meninggalkanmu? ‚ Wahai anak Adam, engkaukah yang merengkuh dunia, atau dunia yang merengkuhmu? Wahai anak Adam, engkaukah yang mematikan dunia, atau dunia yang mematikanmu?

Ketika jasadku digeletakkan menunggu untuk dimandikan, mampukah  aku tegar menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan malaikat kepada- ku :  Wahai anak Adam, dimanakah tubuhmu yang kuat itu, mengapa kini engkau tidak berdaya?  ‚ Wahai anak Adam, dimanakah lisanmu yang lantang dulu, mengapa kini engkau terdiam?  Wahai anak Adam, dimanakah orang-orang yang mengasihimu, mengapa kini mereka membiarkanmu tergeletak sendirian tanpa daya?

Sewaktu mayatku dibaringkan di atas kain kafan, siap dibungkus, mampukah aku menuruti apa yang dikatakan malaikat :   Wahai anak Adam, bersiaplah engkau pergi jauh tanpa membawa bekal!  ‚ Wahai anak Adam, pergilah dari rumahmu dan jangan kembali!  Wahai anak Adam, naikilah tandu yang tidak akan pernah engkau nikmati lagi setelah itu!

Tatkala jenazahku dipikul di atas keranda, sanggupkah aku bersikap anggun seperti seorang raja yang ditandu perajurit, ketika malaikat berseru kepadaku :  Wahai anak Adam, bahagialah engkau apabila engkau termasuk orang-orang yang bertobat, ‚ Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila selama di dunia engkau selalu taat pada perintah Allah dan Rasul~Nya,  Wahai anak Adam, berbahagialah engkau apabila yang menjadi teman abadimu di alam kubur adalah ridha Allah, celakalah engkau apabila teman abadimu murka Allah!

Ketika aku dibaringkan untuk dishalati, akankah diriku mampu bersikap 'manis' tatkala malaikat berbisik di telingaku :  Wahai anak Adam,       semua perbuatan yang telah engkau lakukan akan engkau lihat kembali,  ‚ Wahai anak Adam, apabila selama ini engkau tenggelam dalam amal   soleh maka bergembiralah,  Wahai anak Adam, apabila selama ini engkau tenggelam dalam kemaksiatan menuruti nafsu, maka sambutlah penderitaan akibat keenggananmu mengabdi kepada~Nya!

Sewaktu jasadku berada di tepi kubur siap untuk diturunkan ke liang     lahat, akankah lidahku kelu menjawab pertanyaan malaikat yang berbisik lirih :   Wahai anak Adam, kedamaian apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah cacing ini?   ‚ Wahai anak Adam, cahaya apakah yang engkau bawa untuk menempati rumah yang gelap ini?  Wahai anak Adam, siapakah temanmu yang kau ajak menemanimu dalam penantian panjang ini?

Tatkala aku sudah diletakkan di liang kubur, masih mampukah aku tersenyum menjawab ucapan selamat datang yang disampaikan bumi kepada-ku :   Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bergelak tawa, kini setelah berada di perutku apakah engkau akan tertawa juga, ataukah engkau akan menangis menyesali diri?  ‚ Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bergembira ria, kini setelah berada di perutku apakah kegembiraan itu masih tersisa, ataukah engkau akan tenggelam dalam duka nestapa? Wahai anak Adam, ketika berada di punggungku engkau bersilat lidah, masihkah kini engkau "bernyanyi" ataukah engkau akan diam membisu seribu bahasa bergelut dengan penyesalan?

Setelah aku sendiri terbujur kaku dihimpit bumi tanpa daya dalam liang lahat, sementara sanak keluargaku beserta teman-teman karibku pulang ke rumahnya masing-masing, akankah kecemasan menguasai diriku  ketika Allah swt berfirman : "Wahai hamba~Ku, sekarang engkau terasing-kan sendirian. Mereka telah pergi meninggalkan engkau dalam kesempitan dan kegelapan. Padahal dulu engkau membangkang tidak mau taat kepada~Ku semata-mata untuk kepentingan mereka. Balasan apa yang engkau peroleh dari mereka? Masih pantaskah engkau mengharapkan surga~Ku?"

    
    Saduran bebas dari : "Jalan ke Hadirat Allah" : Syamsul Rizal.



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir. Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com

Senin, 01 Mei 2017

TAFAKUR ( MERENUNG ) SEBAGAI JALAN MASUKNYA HIKMAH
Bagian 2


Seorang ulama besar bernama Hasan Al-Basyri pernah berkata : "Tafakur itu seperti cermin yang dapat menunjukkan kebaikanmu dan kejelekanmu. Dengan cermin itu pula manusia dapat melihat keagungan dan kebesaran Allah. Disamping itu, dengan cermin itu pula manusia dapat melihat tanda-tanda yang diberikan~Nya, baik yang jelas maupun yang samar, sehingga akhirnya ia dapat berlaku lurus di dalam pengabdian kepada~Nya."

Kebanyakan manusia begitu royal menghabiskan waktu untuk memikirkan harta, jabatan, ataupun urusan keduniawian lainnya, tetapi demikian pelitnya meluangkan waktu untuk bertafakur.  Padahal dengan tafakur pandangan kita akan mampu menembus ke dalam perut bumi sementara orang lain hanya dapat melihat sebatas permukaannya saja. Dengan tafakur kita akan dapat merasakan alam akhirat, sementara orang lain hanya mampu merasakan dunia. Dan dengan tafakur kita akan mampu meletak-kan dunia di tangan, sementara orang lain meletakkannya di hati.

Walaupun keutamaan bertafakur ini sudah tak terbantahkan tetapi mengapa sedikit sekali orang yang mau bertafakur? Hal ini penyebabnya tidak lain karena mereka membiarkan pikiran dan hatinya dibelenggu oleh kentalnya masalah keduniawian. Karena ketika hati seseorang dipenuhi oleh khayalan, impian-impian mustahil, senda gurau yang tidak berguna, serta pengetahuan yang tidak bermanfaat, maka hidayah akan menjauh darinya.


Dengan demikian, selama orang tidak mau memangkas hal-hal yang dapat merusak keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat di hatinya, maka selama itu pula ia akan lalai untuk bertafakur. Itulah mungkin sebabnya Luqman Al-Hakim memberikan nasihat kepada anaknya, "Janganlah engkau memasuki dunia yang dapat membahayakan akhiratmu!"  


Bersambung...........



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar: www.pixabay.com

Senin, 17 April 2017

TAFAKUR ( MERENUNG ) SEBAGAI JALAN MASUKNYA HIKMAH
Bagian 1


Adalah akan jauh lebih baik, bila kita menemukan kebenaran dari hasil perenungan sendiri daripada menerima suatu kebenaran dari orang lain ( pepatah Barat mengatakan : "I hear I forget,    I see I know, I do I understand" ).

Menerima kebenaran dan menemukan kebenaran adalah sesuatu yang berbeda. Menerima kebenaran cukuplah dengan bertaqlid      atau 'mengikut' , sedangkan menemukan kebenaran hanya akan diperoleh melalui perenungan demi perenungan yang mendalam.

Sudah menjadi sunatulah bahwa kebenaran yang ditemukan sendiri, ibarat mata air yang tak pernah kering; sedangkan kebenaran yang kita terima dari manusia, ibarat hujan di musim kemarau. Tentu saja yang dimaksud dengan kebenaran disini bukanlah kebenaran dalam konteks seperti dua tambah dua sama dengan empat, tetapi maksudnya adalah kebenaran yang sifatnya memberikan “pencerahan” bagi jiwa; misalnya saja, “perbuatan maksiat itu artinya sama dengan menanda tangani kontrak untuk tinggal di neraka.” 

Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a.  berkata :

"Janganlah kamu mengenal dan mengikuti
kebenaran karena tokohnya; tetapi kenalilah ke-
benaran itu sendiri, niscaya kamu akan
mengetahui siapa tokohnya!”

Allah menganugerahkan al-hikmah
(kepahaman yang dalam tentang Al-Qur'an
dan As-Sunnah) kepada siapa yang Dia kehen-
daki.  Dan barangsiapa yang dianugerahi al-
hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi
karunia yang banyak.  Dan tak ada yang
dapat mengambil pelajaran kecuali
orang-orang yang berakal.
Al-Baqarah (2):269

Nasihat Luqman Al Hakim kepada anaknya : "Wahai anakku, sesungguhnya hikmah itu mendudukkan orang-orang miskin di tempat para raja."

Raja sebagai gambaran orang yang tidak pernah susah. Orang miskin pun dapat merasakan bahagia bila memiliki banyak hikmah. Hikmah menggambarkan “pencerahan” jiwa, yaitu yang akan berfungsi mengendalikan ketentraman. Sebagai contoh orang yang jiwanya telah tercerahkan bahwa segala yang menimpanya pasti berasal dari keputusan Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang dan Maha Adil, maka niscaya ia tidak akan mudah goyah bila ditimpa musibah. Ia akan pasrah, ketentramannya pun tidak terusik.

Seperti halnya rezeki, maka hikmah ini pun hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang berusaha untuk mendapatkannya; yaitu yang mau menggunakan kemampuan akal dan rasa yang dimilikinya untuk bertafakur.   Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, "Tiada ilmu yang lebih baik daripada hasil tafakur."   Dan di dalam Al-Qur'an pun, ditemukan tidak kurang dari 130 kali perintah Allah untuk berpikir (antara lain pada surat Shaad:29, Adz-Dzariyaat:20-21, Yunus:24); serta kehinaan akan menimpa orang yang tidak mau berpikir (Al-Furqan:44, Al-A'raaf:179, Al-Mulk:10).

Tafakur sudah terbukti merupakan pelita hati, karena itu apabila ia tidak dihidupkan, maka hati akan gelap gulita. Orang yang serius merenungi tentang apa-apa yang telah Allah ciptakan; atau pun tentang sakratulmaut, siksa kubur, maupun kesulitan-kesulitan yang akan dijumpai di hari kiamat kelak, niscaya akan mendapatkan pencerahan jiwa. Demikian besar keutamaan bertafakur, sehingga Rasulullah pun pernah bersabda: "Bertafakur sejenak lebih baik daripada ibadah satu tahun".  Mengapa Rasulullah berwasiat demikian? Saya menduga, hal ini semata-mata karena beliau ingin menyelamatkan umatnya agar kelak tidak dijadikan untuk isi neraka, sebagaimana peringatan tegas Allah dalam Al-Qur'an :

Dan sesungguhnya Kami ciptakan
untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan
dari jin dan manusia. Mereka mempunyai
hati tapi tidak dipergunakan untuk memaha-
mi ( ayat-ayat Allah ), mempunyai mata tidak
 dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda
 kekuasaan Allah), mempunyai telinga tidak
 dipergunakan untuk mendengar (ayat-ayat
Allah).  Mereka itu seperti binatang ternak,
 bahkan lebih  sesat lagi.   Mereka itulah
orang-orang yang lalai.

Al-A'raaf (7):179



bersambung......................


Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir. Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com

Selasa, 04 April 2017

KEYAKINAN AKAN MATI

Pupuklah keyakinan bahwa cepat atau lambat kita semua  pasti akan mati. Hal ini penting, karena dengan modal keyakinan ini memudahkan kita untuk dapat merasakan adanya negeri akhirat. Selanjutnya kita akan dapat menerima, bahwa tempat kita di negeri akhirat itu tergantung dari bekal atau pahala yang kita bawa dari dunia. "Kesadaran" akan hal ini akan dapat memotivasi, bahwa kehidupan di dunia pada hakikatnya adalah semata-mata arena untuk mengumpulkan pahala, yaitu dengan jalan taat dan patuh melaksanakan "aturan main" yang ditentukan Allah dan Rasulullah, yang antara lain: mendirikan shalat, berserah diri, sabar waktu ditimpa musibah atau sabar waktu diperlakukan zalim oleh orang, meninggalkan perbantahan sedangkan kita merasa benar, berlaku baik, menolong orang yang sedang kesusahan, tidak iri hati / dengki, tidak takabur / sombong, tidak riya atau pamer, membantu dalam pekerjaan keluarga, tidak menyakiti hati orang dan tidak memutuskan persaudaraan, menjauhkan diri dari sikap amarah, berlaku bijaksana waktu disakiti orang, selalu memohon ampun bila terlanjur melakukan pembangkangan, tidak bergunjing atau membicarakan aib orang, tidak berburuk sangka, tidak berlaku zalim ( baik itu zalim tindakan, ucapan atau pun pikiran ), selalu senyum, memaafkan orang yang menganiayai kita, selalu ingat Allah  ( di waktu duduk, berjalan maupun berbaring ), mendamaikan permusuhan, memuliakan tamu, memenuhi undangan, menjenguk yang sakit, mengajak orang ke jalan Allah, memenuhi janji, berlaku baik terhadap tetangga, mengeluarkan zakat atau sedekah, tidak kikir, menjaga kebersihan, mendoakan orang tua, tidak durhaka kepada orang tua, berlaku lemah lembut kepada pembantu, menghantarkan jenazah, menuntut ilmu yang bermanfaat, mengamalkan ilmu, menyantuni anak yatim, bersyukur bila menerima nikmat~ Nya, melaksanakan haji, tidak melakukan syirik, bekerja, dan lain-lain sebagainya.


Untuk dapat memudahkan taat pada aturan main yang dibuat Allah dan  Rasulullah  saw., kita   harus  memiliki  fundamen-fundamen yang mantap, yaitu berupa pengertian yang mendalam mengenai konsepsi-konsepsi Allah tentang manusia. Jangan mengharapkan pengertian ini datang secara instant, karena pengertian ini hanya  akan dikuasai setelah melalui proses pencarian yang sungguh-sungguh [Al-Israa:19]. Bila kita  tidak pernah “menghidupkan” proses ini, maka kita tidak akan dapat mengerti secara haqul yaqin konsepsi-konsepsi Allah terhadap manusia. Semakin dini proses ini dihidupkan, maka semakin lengkap dan dalam pengertian yang akan diperoleh. Oleh karena itu, bila kita mulai menghidupkan proses ini di usia 60-an misalnya, maka dengan umur yang tersisa, akan sedikit sekali pengertian yang dapat diperoleh. Dan ini berarti semakin sulit pula kita dapat taat pada keinginan-keinginan~Nya.


Fakta sejarah menunjukan, potensi mendapatkan “pencerahan” paling kuat terdapat pada usia muda, bukan pada usia lanjut. Pemeluk dan pengikut setia para nabi pun pada awalnya adalah para pemuda. Tatkala nabi Musa as. mengajak kaumnya untuk menyembah Allah, maka hanya para pemuda sajalah yang mau mengikuti seruannya [Yunus:83]. Begitu juga pada awal Rasulullah saw. menyampaikan risalah Islamnya, para pemudalah yang lebih dulu menyambutnya. Pemuda-pemuda itu antara lain Umar bin Khatab, Sa'ad bin Abi Waqash, Mua'dz bin Jabal, Abdullah bin Mash'ud, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awwam, Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain yang rata-rata baru menginjak usia 20 tahun. Adapun Abu Bakar Ash-Shiddiq saat itu usianya belum mencapai 40 tahun. Demikian pula ketika masyarakat keranjingan menyembah berhala, tampil pula pemuda Ibrahim yang menghancurkan berhala yang mereka sembah [Al-Anbiyaa':60]. Kita pun mengenal sikap teguh para pemuda yang menentang kompromi antara kebatilan dan kebenaran dalam kisah para penghuni gua (ashabul kahfi); yang pada akhirnya mereka ditidurkan Allah selama 309 tahun [Al-Kahfi:25]. Begitu juga para nabi seperti nabi Muhammad saw., Yusuf as, Isa as., dan lain-lainnya; mereka menjadi nabi dalam usia muda. Hal ini semua menunjukan bahwa potensi untuk menangkap “pencerahan” itu boleh jadi paling kuat terdapat pada usia muda, bukan setelah tua. Sungguh benar ungkapan bijak yang mengatakan, "Bila seseorang telah mencapai usia 40 tahun namun belum juga tergerak mempelajari Islam, niscaya ia akan mengalami kesulitan yang luar biasa untuk dapat menjadi Muslim yang baik."

Percuma di dunia menjadi orang terpandang,

kalau di tempat tujuan akhir kelak tidak masuk surga!



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah


Senin, 20 Maret 2017

ORANG SUKSES


Orang yang sukses dalam hidup di dunia, bukanlah orang yang berhasil mengumpulkan harta yang banyak atau pun meraih  pangkat yang tinggi, tetapi orang yang sukses  hidupnya adalah orang yang berhasil mengumpulkan pahala yang banyak.

Perhatikanlah sabda Rasulullah saw. berikut :

"Adapun  'orang-orang yang tinggi besar'  itu,  akan  dihadapkan di hari kiamat, sedangkan nilai  timbangannya di sisi Allah tidak lebih dari sehelai sayap seekor nyamuk."

'orang-orang yang tinggi besar' itu dimaksudkan sebagai ejekan  terhadap orang yang merasa besar karena kedudukannya, merasa tinggi karena pangkatnya, serta menggelembungkan diri karena kekayaannya.

Usaha yang harus dilakukan agar dapat mengumpulkan pahala yang banyak sebagaimana dimaksud di atas, yaitu dengan jalan mentaati aturan-aturan~Nya secara sadar (lillahi ta'ala); baik aturan mengenai kewajiban manusia terhadap Tuhan, maupun aturan mengenai kewajiban manusia terhadap manusia lainnya (lihat lampiran 1). Hal ini memang tidak mudah, tetapi kelak akan berbuah kenikmatan yang luar biasa. Ingatlah pada waktu kita di bangku sekolah dahulu. Bukankah ketika itu kita membenci sekolah dan sering mengkhayalkan suatu kebebasan? Apakah kita akan mencapai derajat yang baik di masyarakat bila pada waktu itu kita mogok meneruskan sekolah? Tentu tidak. Oleh karena itu, bersabarlah dalam berjuang menjalani aturan Allah, sebagaimana yang telah berhasil kita lakukan waktu menjalani sekolah dahulu.
 Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Tirmizi, Rasulullah saw. bersabda bahwasanya Allah telah berfirman : "Telah Ku sediakan balasan untuk hamba~Ku yang saleh apa-apa yang belum pernah dilihatnya, dan belum pernah didengarnya; malahan tak pernah terangan-angan di dalam pikirannya."     
Renungkan pula baik-baik ayat-ayat Al-Qur'an berikut ini :

Barangsiapa di antara kamu yang
patuh kepada Allah dan Rasul~Nya, dan
mengerjakan perbuatan baik,  niscaya akan 
Kami berikan pahala dua kali lipat, dan untuk
 mereka Kami sediakan rezeki yang banyak.
Al-Ahzab (33):31

Barangsiapa yang mengikuti petunjuk~Ku,
niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka,
 dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
Al-Baqarah (2):38

Hai orang-orang yang beriman,
jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya
Dia akan memberikan kepadamu furqan dan
 menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu
 dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah
mempunyai karunia yang besar.
Al-Anfaal (8):29

Barangsiapa taat kepada Allah dan
Rasul~Nya, niscaya Allah memasukkannya
ke dalam surga. Dan barangsiapa yang men-
durhakai Allah dan Rasul~Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan~Nya, niscaya Allah me-
masukkannya ke dalam api neraka sedang
ia kekal di dalamnya,  dan baginya
siksa yang menghinakan.
An-Nisaa' (4):13, 14

Dan barangsiapa yang mentaati Allah
dan Rasul~Nya,  mereka itu akan bersama-
sama dengan orang-orang yang dianugerahi
nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shad
-diiqiin, orang-orang yang mati syahid dan
orang-orang saleh. Dan mereka itulah
 teman yang sebaik-baiknya.

An-Nisaa' (4):69

Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah

Gambar: www.pixabay.com

Senin, 06 Maret 2017

UJIAN ALLAH


Allah tak pernah berhenti menguji keuletan manusia dalam  mematuhi  aturan main  yang ditentukan~Nya.  Oleh karena  Itu kita  harus mengetahui di mana letaknya ujian itu, dan bagaimana caranya agar dapat lulus dari ujian Allah itu. 

Kegagalan menghadapi ujian Allah, seringkali terjadi karena kelengahan hati, yaitu tidak menyadari bahwa masalah yang sedang dihadapi itu sebenarnya adalah merupakan ujian~Nya.   Perhatikan-lah ilustrasi berikut : Bila hati diibaratkan sebuah benteng, dan ujian Allah diibaratkan sebagai musuh yang akan menguasai benteng, maka musuh akan dengan mudahnya masuk  ke dalam  benteng  bila pertahanan benteng itu lemah. Atau bila di dalam benteng sedang ada 'kericuhan,' maka musuhpun tanpa kesulitan yang berarti akan dapat menguasainya. Tetapi bila benteng itu selalu dalam kondisi siaga untuk bertempur, maka musuh pun akan kesulitan untuk menaklukannya. 

Dengan demikian, bila kita selalu mengantisipasi datangnya ujian Allah, yaitu dengan cara selalu mengisi hati dengan keyakinan-keyakinan ketuhanan, maka insya Allah kita akan dapat selalu lulus dari ujian-ujian~Nya. 

Sejalan dengan ini, seorang ahli hikmah mengibaratkan kehidupan dunia seperti mencari madu lebah. Pawang yang pintar akan dengan mudah mengambil madu lebah tanpa terkena sengatannya, sementara yang bukan pawang, hanyalah mendapat sengatannya. [ Ujian-ujian Allah itu jawabannya telah tersedia dalam Al-Qur'an dan Hadits. Oleh karena itu, supaya kita dapat selalu lulus dari ujian~Nya, maka tidak ada jalan lain selain daripada memahami Al-Qur'an dan Hadits dengan baik  ].



Sumber: Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar:www.pixabay.com

Senin, 20 Februari 2017

DUNIA BABAK PRAKUALIFIKASI


Allah  berencana  membuat surga dan neraka, yang akan ditempati  antara  lain  oleh  manusia. Untuk  menentukan siapa yang menjadi penghuni surga dan siapa yang menempati neraka, maka Allah membuat "aturan main" yang harus ditaati, yaitu sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur'an dan Hadits. 

Manusia yang patuh melaksanakan "aturan main" ini, dijanji-kan~Nya menjadi penghuni surga. Sebaliknya, manusia yang selalu melanggar "aturan main" ini, akan dicampakkan~Nya ke dalam neraka. Dengan demikian, hidup manusia di dunia sebenarnya adalah "babak prakualifikasi" untuk menentukan tempat tinggalnya nanti di akhirat. Dan di sana, karena kita semua telah di-beri~Nya kesempatan dan peluang yang sama pada waktu hidup di dunia, di mana pun kita ditempatkan~Nya, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Masing-masing orang akan menghisab dirinya sendiri, dengan membaca kitab amal perbuatannya selagi hidup di dunia, yang akan digantungkan di lehernya masing-masing [ Al-Israa' (17):13-14 ].

“Maha Suci Allah  yang di tangan~Nya lah
segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Yang menjadikan mati dan hidup,
supaya Dia menguji kamu, siapa di antara
kamu yang lebih baik amalnya.”

Al-Mulk (67):1-2



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir. Permadi Alibasyah

Gambar : dreamstime,pixabay

Senin, 06 Februari 2017

MEMELIHARA KESADARAN ( AWARENESS )


Untuk memelihara agar "kesadaran" dapat tetap tinggi, cobalah lakukan langkah-langkah berikut ini dengan konsisten :

1.       Setiap akan meninggalkan rumah, mengheningkan cipta sejenak untuk :
·         bertekad dengan segenap kesungguhan hati akan mengontrol nafsu dan akan bertindak sesuai dengan  "aturan main" Allah, baik pada jalur hablum minallah maupun pada jalur hablum minannas,
·         menyadari (mengantisipasi) bahwa sepanjang hari ini akan menghadapi ujian-ujian Allah, seperti misalnya : bergunjing, berprasangka buruk, dengki, malas shalat, atau pun diperlakukan zalim.
Ø  Jadikanlah ujian-ujian Allah sebagai peluang-peluang untuk memperoleh pahala!

2.       Setiap selesai shalat Isya, mengevaluasi  perilaku atau perbuatan yang  telah dijalani, mulai dari pagi sampai dengan sore hari. Akuilah kegagalan-kegagalan dalam mengatasi ujian Allah sepanjang hari ini, kemudian tekadkan niat bahwa besok akan tampil lebih baik lagi.
Ø  Jadikanlah hari esok sebagai kesempatan yang diberikan Allah untuk memperbaiki diri!

Wahai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok.
Al-Hasyr (59):18

3.      Setiap minggu (minimal), sediakan waktu untuk merenung seolah-olah kematian diri  kita akan segera datang, kemudian bayangkanlah konsekuensi yang akan dihadapi di alam kubur nanti.
Ø  Ingatlah bahwa kematian itu adalah batas penentuan kualitas kita di alam abadi nanti!    
Umar bin Khatab ra. berkata, "Hitunglah dirimu sebelum dihitung dan timbanglah dirimu sebelum ditimbang!"

4.       Setiap melihat ataupun mendengar ada kematian, bayangkan-lah seolah-olah itu dialami oleh diri kita sendiri. Begitu juga pada waktu ziarah kubur, rasakanlah seolah-olah kita yang berada di dalamnya. Renungkan pula apa yang telah diperbuat dan dicapai si ahli kubur semasa hidupnya. Apakah semua itu akhirnya bermanfaat baginya? Mudah-mudahan kesadaran hal ini akan menghantarkan kita pada keyakinan bahwa ternyata sebaik-baik bekal itu adalah taqwa! Dan ternyata pula mayoritas manusia di dunia ini tertipu. Mereka terjebak mati-matian dalam mengumpulkan 'alat' (tools) untuk mengumpulkan pahala, tetapi tidak pernah menggunakan alat itu secara optimal. Mereka mengejar-ngejar sesuatu yang jelas-jelas berlari darinya, dan menghindar dari sesuatu yang nyata-nyata menghampirinya. Pupuklah terus keyakinan akan mati ini. Ingatlah,bahwa kuburan akan datang ke setiap orang dengan kecepatan 60 menit per jam, tidak peduli sekaya apa dia sekarang. Hidup adalah kesempatan, maka jadikanlah ia sebagai persiapan.

Bersabda Rasulullah saw. : "Perbanyaklah ingatan untuk mati."  ( Abi Hurairah, Rawi : Ibnu Hiban ).

Hadits Aisyah r.a.-  Katanya, ya Rasulullah, Apakah ada orang yang dikumpulkan bersama syuhada di akhirat ? Kata Nabi : "Ya ada, yaitu orang yang   selalu mengingat mati dua puluh kali dalam sehari." ( Rawi: Baihaqi ).

Hadits Ibnu Umar r.a. katanya, - Aku pernah mendatangi Nabi saw., yang ketika itu dia berada ditengah-tengah orang banyak. Ada seorang Anshar bertanya, siapakah orang yang paling mulia di sisi Allah ya Rasulullah ? Kata Nabi saw. : " Yaitu orang yang selalu mengingat mati dan menyediakan persiapan untuk itu.  Dengan itulah hilangnya kerakusan duniawi."  ( Rawi : Ibnu Abi Dunya )

Hadits diriwayatkan  oleh  Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim : "Manusia yang paling cerdik ialah yang terbanyak mengingat kematian serta yang terbanyak persiapannya untuk menghadapi kematian itu.  Mereka itulah yang benar-benar cerdik, dan mereka akan pergi ke alam baka dengan membawa kemuliaan dunia serta kemuliaan akhirat."

Seorang ahli hikmah berkata, "....orang yang lupa mengingat mati tidak ubahnya bagaikan sapi. Meskipun tempat penjagalan hanya berjarak beberapa meter darinya, sapi tetap saja memakan rumputan segar dengan lahapnya. Kalau saja ia dapat berpikir bahwa gilirannya dijagal tinggal beberapa menit lagi, niscaya nafsu makannya akan hilang, dan pastilah ia berupaya untuk melarikan diri dari tempat itu ......."

Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, "... Coba perhatikan dirimu baik-baik, tidak lama lagi kamu akan mencapai tujuan akhir semua manusia yaitu terbujur kaku di bawah lapisan tanah. Segala perbuatanmu akan diperlihatkan kepada dirimu di padang mahsyar, yaitu tempat di mana orang-orang yang telah berbuat aniaya akan merintih menyesali diri; orang yang lalai akan sangat menyesali diri dan berharap seandainya ia dapat kembali ke dunia. Namun itu  semua tiada berguna, karena kesempatan mengulang sungguh tidak akan pernah ada ....."

Di dalam kitab Zahri Riyadh disebutkan bahwa nabi Yakub bersahabat dengan malaikat maut. Suatu ketika malaikat maut datang mengunjunginya. Yakub bertanya kepadanya, "Hai  malaikat maut, engkau datang sekedar mengunjungiku atau hendak mencabut nyawaku?" Malaikat maut menjawab, "Aku hanya datang berkunjung." Lalu Yakub pun berkata, "Aku mohon engkau mau memenuhi satu permintaanku." Malaikat maut bertanya, "Apakah permintaanmu itu?" Yakub berkata, "Bila ajalku telah mendekat, tolong engkau beritahukan padaku." Malaikat maut pun berkata, "Baiklah, nanti akan aku kirimkan kepadamu dua atau tiga orang utusan."
Ketika Yakub sampai ajalnya, datanglah malaikat maut padanya. Dan sebagaimana biasanya, Yakub pun bertanya, "Apakah kamu hanya berkunjung atau hendak mencabut nyawaku?" Malaikat maut menjawab, "Kali ini aku datang untuk mencabut nyawamu!" Dengan keheranan Yakub bertanya, "Bukankah engkau telah berjanji padaku akan mengirimkan dua atau tiga utusan?" Malaikat maut pun menjawab, "Telah aku lakukan itu! Keputihan rambutmu  setelah hitam sebelumnya; kelemahan tubuhmu setelah kuat sebelumnya; dan kebongkokan tubuhmu setelah tegak sebelumnya. Tidakkah engkau sadar bahwa semua itu adalah utusanku pada anak Adam sebelum ia mati?"


Abu Hamzah Al-Khurasani (seorang sufi, wafat tahun 903) mengatakan, "Barangsiapa telah merasakan ingat kematian, maka Allah akan menjadikan ia senang mencari pahala dan benci terhadap dosa.”



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar :www.pixabay.com

Senin, 23 Januari 2017

ILUSTRASI SEJARAH


Pada suatu waktu, khalifah Sulaiman bin Abdul Malik datang ke Madinah. Beliau ingin bertemu dengan Abu Hazim, yaitu satu-satunya sahabat Rasulullah saw. yang masih hidup. Kepada Abu Hazim, Khalifah menanyakan tentang bagaimana keadaan seseorang itu pada waktu ia akan meninggal dunia. Maka Abu Hazim pun berkata: "Keadaan orang yang akan  meninggal  dunia itu ada dua macam. Pertama, seperti perantau yang dipanggil pulang ke kampung  halamannya  untuk  menyaksikan hasil kirimannya yang sudah dibuatkan rumah yang bagus dengan taman yang indah. Foto mengenai semuanya itu telah dikirimkan kepadanya sebelum dia berangkat. Kita dapat bayangkan bagaimana sukacitanya perasaan sang perantau, tentu ia ingin segera mempercepat kepulangannya itu. Apalagi dikhabarkan pula kepadanya, bahwa kedatangannya nanti akan disambut oleh masyarakat dengan riang gembira sebagai perantau yang berhasil. Adapun keadaan yang kedua, adalah seperti penjahat yang lari  dari penjara kemudian dia tertangkap kembali. Ia akan diseret, disiksa, dan dilemparkan dengan kejam ke tempatnya semula. Dapat dibayangkan, betapa takut dan ngerinya perasaan orang itu.”


Mendengar penjelasan Abu Hazim itu, kontan Khalifah menangis tersedu-sedu sambil berdoa dengan syahdu  “ Ya Allah! Janganlah Engkau jadikan aku di waktu kembali kepada~Mu seperti layaknya seorang penjahat yang melarikan diri kemudian tertangkap kembali.”
Kelompok pertama, menggambarkan orang-orang yang meyakini bahwa suatu waktu mereka akan kembali kepada Allah; mereka berusaha sekuat  tenaga menyiapkan bekal yang banyak untuk perjalanan yang amat jauh di alam akhirat. Bekal itu ialah amal saleh dalam jalur hablum-minnallah dan jalur hablum-minnannas.


Kelompok kedua, mewakili orang-orang yang lalai menyiapkan perbekalan. Umur dihabiskannya untuk memenuhi kepuasan hawa nafsu belaka. Mereka gigih mencari fasilitas demi memuaskan kebutuhan nafsu, seperti foya-foya dan mengumbar nafsu syahwat, memiliki rumah seperti istana dan mobil-mobil mewah yang kesemuanya itu hanya untuk prestise saja. Mereka mengukur kesuksesan hidup di dunia dari kehebatan fasilitas atau materi yang mereka miliki.


Kehidupan dunia dijadikan indah
dalam pandangan orang-orang kafir, dan
mereka memandang hina orang-orang yang
beriman. Padahal orang-orang yang bertakwa
 itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat.
Dan  Allah memberi rezki  kepada orang-orang
yang  dikehendaki~Nya tanpa batas.
Al-Baqarah (2):212

Allah berfirman : "Dan kepada
orang yang kafir pun Aku beri kesenangan
sementara, kemudian Aku paksa ia menja-
lani siksa neraka dan itulah seburuk-
buruk tempat kembali."
Al-Baqarah (2):126

Dan orang-orang yang kafir amal-
amal mereka adalah laksana fatamorgana
 di tanah yang datar
An-Nuur (24):39




Dengan demikian jelaslah, sebaik-baik kekayaan adalah kekayaan jiwa, dan sebaik-baik bekal adalah takwa; sedangkan seburuk- buruknya kejadian adalah kebutaan hati.




Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah
Gambar : www.pixabay.com

Rabu, 11 Januari 2017

KEHIDUPAN DUNIA ADALAH KESENANGAN YANG MENIPU



Allah menciptakan surga dan neraka, yang kelak akan diisi oleh manusia. Di mana nanti kita berada -surga atau neraka-  akan ditentukan melalui proses kompetisi yang  panjang selama  hidup di dunia; yaitu kompetisi dalam mengumpulkan pahala. Kompetisi ini berakhir pada waktu kita mati, karena tidak ada kesempatan pengumpulan pahala lagi setelah datangnya kematian (kecuali dari tiga perkara sebagaimana sabda Rasulullah saw, lihat hal. 44 ).

Sesungguhnya Kami telah menjadikan
apa yang ada di bumi sebagai perhiasan
bagi manusia, agar Kami menguji
  mereka siapakah di antara mereka
yang terbaik perbuatannya.
Al-Kahfi (18):7


Seseorang yang berhasil mengumpulkan pahala yang banyak, tempatnya  kelak  adalah  di surga.  Sedangkan  bagi  yang  lalai, tidak  disangsikan lagi, ia akan berada di tempat sebaliknya yaitu neraka. Jadi, surga adalah merupakan puncak hadiah yang akan diraih oleh manusia. Dan tentu saja untuk mendapatkan hadiah puncak ini  tidaklah mudah. Diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh, karena Allah akan  terus menerus menguji keuletan kita dalam mematuhi “aturan main" yang dibuat~Nya.

Apakah manusia itu mengira
bahwa mereka dibiarkan saja
mengatakan : ' kami telah beriman ', sedang
mereka tidak diuji lagi ?
Al-Ankabuut (29):2


Kami akan menguji kamu dengan keburukan 
dan kebaikan sebagai cobaan.
Al-Anbiya' (21):35


Rasulullah saw. pun memperingatkan kita :

"Dunia itu adalah nerakanya orang
mukmin dan surganya orang kafir.  Surga
itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai,
dan neraka itu dikelilingi oleh hal-hal
yang menyenangkan (nafsu)."
  




Memang bila direnungkan dengan pikiran yang jernih, niscaya kita akan mengakui bahwa keberadaan manusia di dunia ini hanyalah semata-mata untuk diuji. Seandainya hidup ini bukan untuk diuji, lalu kenapa Allah tidak langsung saja mengirimkan kita ke surga? Sedangkan bentuk ujiannya itu bermacam-macam. Hal ini tentunya adalah wajar, mengingat hadiahnya pun luar biasa, yaitu hidup abadi dalam kebahagiaan di surga. Ujian terberat bagi kebanyakan orang, umumnya adalah yang berkaitan dengan harta atau pangkat. Harta atau pangkat dapat dengan mudah membuat manusia terbius, terlupa akan tujuan hidupnya di dunia. Harta yang seharusnya digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan ketaatan pada aturan main~Nya, terbuai justru digunakan untuk melanggar 'aturan main' itu (!).  Dalam hal ini sayidina  Ali r.a. berwasiat, "Hati-hatilah terhadap hartamu, karena ia dapat menjadi bahan utama pelampiasan hawa nafsu!"  ( "... Ya Allah, letakanlah dunia di tangan kami dan jangan Engkau jadikan dunia menetap di hati kami ....." )

Dan ketahuilah, bahwa
hartamu dan anak-anak kamu itu
hanyalah sebagai cobaan ....
Al-Anfaal (8):28

... Dan Kami coba mereka
dengan nikmat yang baik-baik dan
bencana yang buruk-buruk.
Al-A'raaf (7):168




Untuk dapat mengatasi berbagai macam ujian Allah ini, Kita  harus mempunyai bekal motivasi yang kuat. Karena hanya dengan motivasi yang kuat, akan tercipta semangat yang hebat. Dan dengan semangat yang hebat, segala godaan yang berasal dari  nafsu / setan  yang gila pun akan dapat ditaklukkan.
Ayat-ayat berikut ini dapat dijadikan sebagai bekal untuk motivasi :

Sesungguhnya barangsiapa
datang kepada Rabbnya dalam keadaan
berdosa, maka sesungguhnya baginya
neraka jahanam. Ia tidak mati di dalamnya
dan tidak (pula) hidup.
Thaahaa (20):74

Sesungguhnya kehidupan dunia
hanyalah  permainan dan senda gurau ....
Muhammad (47):36

Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
sampai kamu masuk ke dalam kubur.
At-Takaatsur (102):1, 2

Maka janganlah harta benda dan anak-
anak, mereka menarik hatimu.   Sesungguhnya
Allah menghendaki dengan (memberi) harta
 benda dan anak-anak itu untuk menyiksa
mereka dalam kehidupan di dunia  dan kelak
akan melayang nyawa mereka, sedang
mereka dalam keadaan kafir.
At-Taubah (9):55

Ketahuilah bahwa kehidupan dunia
itu hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah
antara kamu serta berbangga-banggaan tentang
banyaknya harta dan anak, seperti hujan
yang tanam-tanamannya mengagumkan para
petani; kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian
menjadi hancur. .......... Dan kehidupan
dunia ini   tidak lain  hanyalah
kesenangan yang menipu.
Hadiid (57):20

Dan tidaklah kehidupan dunia ini
melainkan senda gurau dan main-main.
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang 
sebenar-benarnya kehidupan, kalau
mereka mengetahui.
Al-Ankabuut (29):64





Memang, bila dilihat hanya dari permukaan, dunia ini sangat indah dan mempesona, sehingga tidak heran banyak orang yang tergiur dan terpedaya olehnya. Padahal kalau orang mau menyelam melihat hakikat yang sebenarnya, maka akan nampaklah dunia itu tidak lain hanyalah tipuan kosong belaka. Betapa hari ini dibuatnya kita tertawa terpingkal-pingkal, dan esok hari dibuatnya kita menangis tersedu-sedu.
Seorang ahli hikmah berkata, "Barangsiapa yang menyaksikan dunia dengan menggunakan mata batinnya, niscaya ia tidak akan rela menggunakan sebagian besar waktu dan tenaganya hanya semata-mata untuk merengkuh dunia ke dalam genggamannya."
Kita  harus segera menyadari, dunia hanyalah batu loncatan bagi manusia untuk mencapai akhirat. Dunia bukanlah tempat yang diciptakan Allah untuk kita tinggali selamanya, tetapi dunia hanyalah sekedar tempat persinggahan sementara dalam perjalanan kita menuju kampung halaman yang telah disediakan Allah, yaitu akhirat. Bersikap prihatin dalam suatu perjalanan tentunya sangat bijaksana. Bukankah bagi seorang pengembara itu kenikmatan adanya di akhir perjalanan?  Ingatlah selalu pesan  Nabi kita :

"Akan datang kepada umatku suatu zaman, dimana mereka cinta kepada lima perkara dan lupa kepada lima perkara yang lain. Yaitu cinta kepada dunia, lupa kepada akhirat; cinta kepada harta, lupa kepada perhitungan; cinta kepada makhluk, lupa kepada Kholiq; cinta kepada dosa, lupa kepada taubat; dan cinta kepada mahligai lupa kepada kuburan."




Menurut Imam Ghazaly, kelak semua manusia akan melintasi jembatan yang di bawahnya terdapat neraka. Jembatan ini dikenal dengan sebutan shiraathalmustaqiim. Kelak bakal ada yang melewatinya secepat kilat, ada juga yang berlalu seperti angin atau sekencang larinya kuda, dan ada pula yang secepat terbangnya burung. Namun  di samping itu, ada  juga yang berjalan biasa, atau yang merangkak hingga hangus menjadi arang. Bahkan ada yang tersandung sehingga terjatuh ke dalam neraka.  Perbedaan cara ini dikarenakan perbedaan sikap hidup selama di dunia, yaitu apakah selalu taat, atau sering membangkang pada aturan main~Nya. Shiraathal mustaqiim bukanlah jembatan seperti di dunia yang dapat ditempuh dengan kekuatan fisik atau kaki, tetapi jembatan ini hanya dapat diseberangi dengan kekuatan hati. Hati yang selalu membangkang ibarat sepasang kaki yang lumpuh (pincang), sedangkan hati yang selalu taat pada aturan main~Nya ibarat sepasang kaki seorang pelari ulung.




Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah

Gambar : pixabay.com, infounik.com