Selasa, 04 April 2017

KEYAKINAN AKAN MATI

Pupuklah keyakinan bahwa cepat atau lambat kita semua  pasti akan mati. Hal ini penting, karena dengan modal keyakinan ini memudahkan kita untuk dapat merasakan adanya negeri akhirat. Selanjutnya kita akan dapat menerima, bahwa tempat kita di negeri akhirat itu tergantung dari bekal atau pahala yang kita bawa dari dunia. "Kesadaran" akan hal ini akan dapat memotivasi, bahwa kehidupan di dunia pada hakikatnya adalah semata-mata arena untuk mengumpulkan pahala, yaitu dengan jalan taat dan patuh melaksanakan "aturan main" yang ditentukan Allah dan Rasulullah, yang antara lain: mendirikan shalat, berserah diri, sabar waktu ditimpa musibah atau sabar waktu diperlakukan zalim oleh orang, meninggalkan perbantahan sedangkan kita merasa benar, berlaku baik, menolong orang yang sedang kesusahan, tidak iri hati / dengki, tidak takabur / sombong, tidak riya atau pamer, membantu dalam pekerjaan keluarga, tidak menyakiti hati orang dan tidak memutuskan persaudaraan, menjauhkan diri dari sikap amarah, berlaku bijaksana waktu disakiti orang, selalu memohon ampun bila terlanjur melakukan pembangkangan, tidak bergunjing atau membicarakan aib orang, tidak berburuk sangka, tidak berlaku zalim ( baik itu zalim tindakan, ucapan atau pun pikiran ), selalu senyum, memaafkan orang yang menganiayai kita, selalu ingat Allah  ( di waktu duduk, berjalan maupun berbaring ), mendamaikan permusuhan, memuliakan tamu, memenuhi undangan, menjenguk yang sakit, mengajak orang ke jalan Allah, memenuhi janji, berlaku baik terhadap tetangga, mengeluarkan zakat atau sedekah, tidak kikir, menjaga kebersihan, mendoakan orang tua, tidak durhaka kepada orang tua, berlaku lemah lembut kepada pembantu, menghantarkan jenazah, menuntut ilmu yang bermanfaat, mengamalkan ilmu, menyantuni anak yatim, bersyukur bila menerima nikmat~ Nya, melaksanakan haji, tidak melakukan syirik, bekerja, dan lain-lain sebagainya.


Untuk dapat memudahkan taat pada aturan main yang dibuat Allah dan  Rasulullah  saw., kita   harus  memiliki  fundamen-fundamen yang mantap, yaitu berupa pengertian yang mendalam mengenai konsepsi-konsepsi Allah tentang manusia. Jangan mengharapkan pengertian ini datang secara instant, karena pengertian ini hanya  akan dikuasai setelah melalui proses pencarian yang sungguh-sungguh [Al-Israa:19]. Bila kita  tidak pernah “menghidupkan” proses ini, maka kita tidak akan dapat mengerti secara haqul yaqin konsepsi-konsepsi Allah terhadap manusia. Semakin dini proses ini dihidupkan, maka semakin lengkap dan dalam pengertian yang akan diperoleh. Oleh karena itu, bila kita mulai menghidupkan proses ini di usia 60-an misalnya, maka dengan umur yang tersisa, akan sedikit sekali pengertian yang dapat diperoleh. Dan ini berarti semakin sulit pula kita dapat taat pada keinginan-keinginan~Nya.


Fakta sejarah menunjukan, potensi mendapatkan “pencerahan” paling kuat terdapat pada usia muda, bukan pada usia lanjut. Pemeluk dan pengikut setia para nabi pun pada awalnya adalah para pemuda. Tatkala nabi Musa as. mengajak kaumnya untuk menyembah Allah, maka hanya para pemuda sajalah yang mau mengikuti seruannya [Yunus:83]. Begitu juga pada awal Rasulullah saw. menyampaikan risalah Islamnya, para pemudalah yang lebih dulu menyambutnya. Pemuda-pemuda itu antara lain Umar bin Khatab, Sa'ad bin Abi Waqash, Mua'dz bin Jabal, Abdullah bin Mash'ud, Thalhah bin Ubaidilah, Zubair bin Awwam, Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain yang rata-rata baru menginjak usia 20 tahun. Adapun Abu Bakar Ash-Shiddiq saat itu usianya belum mencapai 40 tahun. Demikian pula ketika masyarakat keranjingan menyembah berhala, tampil pula pemuda Ibrahim yang menghancurkan berhala yang mereka sembah [Al-Anbiyaa':60]. Kita pun mengenal sikap teguh para pemuda yang menentang kompromi antara kebatilan dan kebenaran dalam kisah para penghuni gua (ashabul kahfi); yang pada akhirnya mereka ditidurkan Allah selama 309 tahun [Al-Kahfi:25]. Begitu juga para nabi seperti nabi Muhammad saw., Yusuf as, Isa as., dan lain-lainnya; mereka menjadi nabi dalam usia muda. Hal ini semua menunjukan bahwa potensi untuk menangkap “pencerahan” itu boleh jadi paling kuat terdapat pada usia muda, bukan setelah tua. Sungguh benar ungkapan bijak yang mengatakan, "Bila seseorang telah mencapai usia 40 tahun namun belum juga tergerak mempelajari Islam, niscaya ia akan mengalami kesulitan yang luar biasa untuk dapat menjadi Muslim yang baik."

Percuma di dunia menjadi orang terpandang,

kalau di tempat tujuan akhir kelak tidak masuk surga!



Sumber : Buku Bahan Renungan Kalbu Ir.Permadi Alibasyah